IPW: Penyelesaian Kasus Polisi Tembak Polisi Tak Pernah Tuntas

Ilustrasi polisi bersenjata. (Antara)

Oleh: Gardi Gazarin / PCN | Kamis, 12 Oktober 2017 | 21:59 WIB

Jakarta- Indonesia Police Watch (IPW) menyatakan insiden polisi tembak polisi bukan pertama kali ini terjadi. Kasusnya selalu berulang. Tapi, Polri belum pernah mengungkap latar belakangnya secara transparan. Sehingga, penyelesaiannya tidak pernah komprehensif dan tuntas.

Hanya setelah selesai seiring kasusnya tenggelam ditelan waktu. Untuk kemudian tragedi polisi tembak polisi terulang lagi seperti kematian tragis tiga anggota Brimob Polri di wilayah hukum Polres Blora Polda Jawa Tengah.

"Melihat kembali terjadinya aksi polisi tembak polisi jelas memilukan. IPW turut berduka kepada keluarga yang ditinggalkan dan sangat prihatin dengan kasus ini. Mengingat negara sudah membiayai polisi-polisi tersebut dengan dana yang cukup besar untuk mengabdi pada masyarakat. Tapi, akhirnya polisi-polisi itu mati konyol karena aksi polisi tembak polisi dan pelakunya kemudian bunuh diri dengan cara menembak dirinya sendiri," ujar Ketua Presidium IPW Neta S Pane kepada SP, Kamis (12/10).

Menurut Neta, di wilayah Jawa Tengah kasus serupa pernah terjadi. Beberapa tahun lalu seorang perwira menembak mati Wakapolwiltabes Semarang di ruang kerjanya, dan kemudian pelaku bunuh diri dengan cara menembak kepalanya sendiri.

Sebelumnya, keduanya terdengar bertengkar. Dikatakan, berdasarkan informasi yang diperoleh IPW, si perwira tidak senang hati karena atasannya itu menjadi backing pengusaha dan kemudian mencopotnya dari jabatannya. Tapi, secara resmi, tutur Neta, otoritas Polri tidak pernah mengumumkan latar belakang penembakan tersebut.

Padahal sepanjang Polri belum transparan maka kasus serupa bakal terus berulang karena akar masalahnya tidak dituntaskan. Dalam kasus Brimob menembak mati brimob di Blora ini, kata Neta, Polri perlu mengusut tuntas kasusnya. Kemudian, memaparkan latar belakangnya secara transparan agar ada efek pembelajaran agar kasus serupa jangan berulang.

Kapolda Jateng Irjen Pol Chondro Kirono perlu menjelaskan secara tuntas, apakah ketiga anggota Brimob itu memang tugas resmi di sana atau tidak. Apakah kasus polisi tembak polisi ini ada kaitan dengan dugaan aksi backing tambang ilegal di Blora. Sebab, di Blora cukup banyak tambang minyak rakyat yang cenderung ilegal.

Dikatakan, sikap tegas dan transparan Kapolda Jateng sangat diperlukan agar tidak berkembang keresahan di masyarakat. Sebab, jika anggota polisi saja ringan tangan menembak mati rekan sekerjanya sesama polisi, bagaimana pula jika menghadapi angota masyarakat yang tidak dikenalnya.

Belajar dari kasus ini, paparnya, Polda Jateng perlu kembali mendata dan mengevaluasi kondisi psikologis semua anggotanya yang memakai senjata api. Ini perlu dilakukan karena Polda Jateng tergolong sebagai wilayah yang rawan polisi tembak Polisi menyusul wilayah Polda Metro Jaya, dan Polda Sumatera Utara.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT