18 Kasus Polda Jabar Terpecahkan berkat CCTV

18 Kasus Polda Jabar Terpecahkan berkat CCTV
Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jabar Komisaris Besar Umar Surya Fana, menunjukan rekaman CCTV saat merilis kasus pembunuhan dengan korban Hernawati (21), Kamis, 26 Oktober 2017. ( Foto: Istimewa )
Vento Saudale / JAS Jumat, 27 Oktober 2017 | 07:42 WIB

Bogor - Keberadaan kamera tersembunyi atau closed circuit television (CCTV) di berbagai area pusat keramaian dianggap sangat membantu, khususnya dalam pengungkapan identitas pelaku bila terjadi tindak kejahatan.

Hal tersebut dipaparkan Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jabar Komisaris Besar Umar Surya Fana, saat merilis kasus pembunuhan dengan korban Hernawati (21), kemarin. Dalam kasus pengungkapan kasus pembunuhan tersebut polisi dapat menangkap tiga pelaku yakni DD (21), BB (24), dan RA (20).

“Kasus ini dapat terungkap kurang dari 24 jam, ini berkat keberadaan CCTV di tempat korban bekerja. Beberapa jam sebelum ditemukan meninggal, identitas pelaku saat menjemput korban diketahui,” kata Umar, Kamis (26/10).

Menurut Umar, keberadaan kamera tersembunyi CCTV tidak dapat mencegah kejahatan, namun dengan adanya CCTV dapat membantu anggota polri dalam menyidik sebuah tindak kejahatan. Dalam periode Januari hingga Oktober 2017, Polda Jabar berhasil mengungkap 18 kasus kejahatan dan lima di antaranya di Polres Bogor dapat diungkap dengan bantuan CCTV.

Selain kasus Hernawati, lanjut Umar, kasus kejahatan lainnya yang menonjol yakni penangkapan pembunuh karyawan BNN Indria (35), September lalu. Kendaraan pelaku atau suaminya diketahui melintas dan terekam CCTV jalan Tol Jagorawi dan Bandara Halim. Kasus lainnya perampokan di Tol Cipali, Subang; pembunuhan dosen ITB di Cianjur, Mei; perampokan dan pembunuhan di Ciamis, Agustus lalu.

“Semuanya pengungkapan kasus dibantu CCTV dan rata-rata pelaku dapat ditangkap paling lama dua hari,” kata dia.

Rekaman CCTV merupakan bukti otentik dalam pengungkapan identitas atau modus operandi kejadian kejahatan dan sebagian besar pelaku sulit mengelak bila sudah ditunjukkan bukti otentik tersebut.

“Saat penyidikan, alibi pelaku itu bermacam-macam tetapi bila sudah diperlihatkan bukti otentik CCTV tidak sedikit pelaku kejahatan mengakuinya,” kata Umar. Bentuk pemeriksaan dengan menggunakan bukti otentik CCTV juga dianggap menghilangkan pemeriksaan melalui bentuk kekerasan.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE