Pilgub Sumut Mulai Panas, PDIP Belum Punya Jago

Plt Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi berjalan keluar ruangan seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, 12 Oktober 2015 (Antara/Hafidz Mubarak)

Oleh: Arnold H Sianturi / HA | Sabtu, 18 November 2017 | 04:03 WIB

Medan - Kontestasi politik menjelang pemilihan gubernur di Sumatera Utara (Sumut) semakin meningkat, setelah sejumlah partai politik mulai mengumumkan pasangan calon mereka.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengusung Letjen TNI Edy Rahmayadi- Musa Rajekshah (Ijek), dan ditengarai Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan Partai Amanat Nasional (PAN) juga memberikan dukungan terhadap pasangan yang sama.

Di pihak lain, Partai Golkar mengalami sedikit guncangan setelah Ngogesa Sitepu menyatakan mengundurkan diri sebagai bakal calon wakil gubernur mendampingi petahana Tengku Erry Nuradi. Ngogesa mengajukan pengunduran diri dengan alasan kesehatan, namun beredar isu bahwa dia sebetulnya tidak terima dijadikan wakil.

Ngogesa adalah Ketua DPD Golkar Sumut.

“DPP PKS melalui Ketua DPW telah menyampaikan dan memutuskan bahwa Edy-Ijeck yang akan diusung. Ini sudah melalui mekanisme partai di tingkat dewan pimpinan wilayah disertai pemilihan umum internal dan komunikasi ke eksternal,” ujar Ketua Badan Pemenangan Pemilu Pilkada (BP3) PKS Sumut Satrya Yudha Wibowo, Jumat (17/11).

Satrya mengatakan, PKS mempunyai pertimbangan sendiri saat mengusung pasangan dari luar partai. Keputusan ini pun merupakan bagian dari kewenangan dewan pimpinan pusat. Komunikasi dua arah sudah dilakukan, baik itu dengan partai maupun pasangan yang diusung. Keputusan itu sudah final dan wajib untuk dilaksanakan.

"Deklarasi akan dilakukan secara internal lebih dulu, pimpinan DPP PKS akan datang ke DPW Sumut untuk menyampaikan keputusan itu. Intinya PKS Sumut siap memenangkan Edy-Ijeck. Mesin partai akan digerakkan sampai ke akar rumput," sebutnya.

Mundur
Calon gubernur yang juga petahana, Tengku Erry Nuradi mengaku sudah bertemu dengan Sekretaris DPP Golkar Idrus Marham dan Ngogesa Sitepu di Kantor DPP Golkar di Jakarta Barat. Saat itu, Ngogesa menyampaikan niat mundur dari bakal calon Wakil Gubernur Sumut 2018-2023.

"Beliau menyampaikan alasan kesehatan sehingga tidak bisa mengikuti proses maupun tahapan yang cukup panjang. Kemudian, Sekjen Golkar menginstruksikan DPD Golkar Sumut untuk mencari sosok pengganti Ngogesa Sitepu. DPP Golkar mengarahkan Golkar Sumut untuk segera menggelar rapat mencari pengganti Ngogesa," sebutnya.

Sebagai petahana, Erry diusung oleh Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan Golkar.

Erry juga sudah mengambil formulir pendaftaran sebagai bakal calon gubernur di Markas PDI Perjuangan. Namun, sampai sejauh ini partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu belum mengumumkan pasangan calon yang diusung.

Golkar merupakan pemilik kursi terbanyak di DPRD Sumut dengan 17 kursi, disusul PDI Perjuangan 16 kursi, Partai Demokrat 14 kursi, Partai Gerindra 13 kursi, Hanura 10 kursi, PKS sembilan kursi, PAN enam kursi, Nasdem lima kursi, PPP empat kursi, PKB dan PKPI masing-masing tiga kursi.

Golkar telah memutuskan pasnagan Erry dan Ngogesa seperti tertuang dalam surat DPP Partai Golkar Nomor R-52/GOLKAR/VII/2-17 tertanggal 21 Agustus 2017, yang ditandatangani oleh Ketua Umum Setya Novanto dan Sekjen Golkar Idrus Marham.

"Memang benar bahwa DPP Partai Golkar mengusung Erry Nuradi sebagai calon gubernur, yang berpasangan dengan Ketua DPD Golkar Sumut Ngogesa Sitepu," ujar Sekretaris DPD I Partai Golkar Sumut, Irham Buana Nasution.

Irham mengatakan, keputusan pimpinan partai diterima dengan baik oleh seluruh kader Golkar di daerah tersebut. Keputusan ini, kata dia, dinilai objektif karena Golkar tidak menginginkan kekalahan lagi untuk ajang pemilihan gubernur Sumut.

"Ini merupakan bagian dari strategi. Erry Nuradi merupakan incumbent yang memiliki popularitas tinggi. Sebelumnya, Erry Nuradi sudah membuat permohonan. Golkar akan berkoalisi dengan Partai Nasdem, yang mana Erry Nuradi merupakan Ketua DPD Nasdem," katanya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT