Pegiat Islam reformis dan penulis buku asal Kanada Irshad Manji menjadi pembicara saat diskusi dan bedah buku karyanya Allah, Liberty & Love di Salihara, Jakarta Selatan. FOTO: ANTARA
Indonesia tidak sempurna dalam dunia ideal, tapi model yang pas untuk pluralisme.

Meski diskusi bedah bukunya dibubarkan oleh polisi, reformis Islam kontemporer asal Kanada, Irshad Manji mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia yang pluralistik.

“Saya tidak akan menarik kesimpulan cepat-cepat tentang Indonesia berdasarkan atas apa yang terjadi dengan diri saya di Salihara, kemarin. Karena, saya tahu bahwa tidak mungkin bisa menilai negara dengan penduduk ratusan juta, berbelas pulau, dan begitu banyak etnis dari satu kejadian saja,” jelas Irshad dalam acara diskusi yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, di Jakarta, Sabtu (5/4).

Nama Irshad Manji mencuat setelah pihak kepolisian Jakarta Selatan dan Front Pembela Islam (FPI) membubarkan diskusi bedah bukunya yang berjudul ‘Allah, Liberty & Love: Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan, Suara Baru Reformis Muslim Kontemporer', di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jumat (4/4).

Mereka mengklaim bahwa diskusi yang dilaksanakan tersebut dilakukan tanpa adanya ijin. Selain itu, mereka menduga bahwa Irshad, seorang feminis yang juga menyatakan diri sebagai lesbian, akan membawa nilai-nilai yang tidak sesuai dengan Islam.

“Saya telah melihat Indonesia sebagai negara yang, memang tidak sempurna dalam dunia ideal, tapi dia merupakan model yang pas untuk pluralisme dan kebebasan berpikir. Saya bahkan menaruh porsi yang besar untuk Indonesia dan perannya tersebut di salah satu bab di dalam buku saya (Allah, Liberty, & Love). Saya selalu bilang bahwa kalau Anda ingin melihat contoh pluralisme beragama, lihatlah Indonesia,” kata Irshad yang mengatakan bahwa diskusi bedah bukunya dibatalkan di Solo.

Meski demikian, dia tetap mengaku terkejut dengan semakin meningkatnya kelompok-kelompok ekstremis di Indonesia. “Saya terkejut dengan meningkatkan kelompok-kelompok ini dan saya tahu bahwa kejadian di Salihara tidak hanya terjadi saat itu saja. Saya terkejut karena tindakan mereka bisa mempengaruhi mereka yang tinggal di daerah urban Jakarta,” jawabnya.

Lebih lanjut, dia menyatakan bahwa setiap orang harus mau jujur untuk menyadari fakta semakin meningkatnya aktivitas ekstremis tersebut.

“Anda pun harus berani untuk berbicara kalau anda tidak ingin kebohongan semakin terus-menerus diperdengarkan. Kalau anda tahu itu salah, berbicaralah,” jawabnya. “Hanya melalui argumen balik (counter argument), pemikiran-pemikiran yang sempit bisa terekspos lalu orang pun bisa akhirnya mengerti. Jangan hanya menjadi panik ataupun marah, tanggapi saja dengan ringan, santai, humor, atau kegembiraan.”

Atas pengalamannya di Salihara, Irshad mengatakan bahwa dia akan melakukan sedikit ‘update' terhadap pandangannya tentang Indonesia di buku selanjutnya. “Beri waktu saya setahun untuk merenungkan kembali apa yang terjadi di Salihara, tapi saya janji akan mempunyai hal yang jujur dan positif dalam tulisan saya (tentang Indonesia),” terangnya.

Meski sempat mendapat kawalan ketat dari kepolisian saat kembali ke hotelnya serta puluhan anggota FPI sudah mendatangi diskusi tersebut, acara berjalan lancar selama satu setengah jam.

Penulis: