Aryanto, Profesor Tak Bergelar Binaan UlaMM PNM

Aryanto Misel. (ist)

Oleh: Yudo Dahono / YUD | Kamis, 7 Desember 2017 | 18:25 WIB

Cirebon - Makin tua makin jadi, itulah peribahasa yang cocok untuk Aryanto Misel, lelaki paruh baya yang tinggal di Desa Lemah Abang, Cirebon, Jawa Barat. Aryanto dengan berbekal peralatan sederhana dirinya mampu menciptakan alat serta produk yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar hingga dunia.

Apabila melihat sepintas kondisi fisiknya, Anda tidak akan menyangka kemampuannya sangat luar biasa. Meski latar belakang Aryanto tidak sampai menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMA), tapi dia mampu menciptakan beraneka ragam produk yang bakal membuat mata Anda terbelalak.

Mulai dari produk rumahan seperti, semprotan pembasmi kutu rambut, semprotan pembersih jerawat, semprotan talas, alat pemadam api ringan, hingga perlengkapan militer kelas dunia seperti rompi anti peluru dari bahan sabut kelapa hingga bom hidrogen pun dapat dibuatnya.

Aryanto bercerita, dirinya dilahirkan dari keluarga sederhana bahkan kisah masa kecilnya sungguh memilikan. Aryanto kecil sempat merantau ke Ibu Kota Jakarta di umur delapatn tahun, tanpa mengetahui tujuan dan tidak memiliki sanak saudara. Bahkan orang tua Aryanto sepat mengira dirinya telah tiada karena petualangannya semasa kecil itu.

Saat berkelana di Ibu Kota, Aryanto sempat menjadi tukang semir sepatu. Tetapi, dirinya tidak hanya merantau untuk mencari uang di Jakarta, Aryanto juga mengikuti sekolah walaupun tanpa memakai seragam sekolah dirinya tetap semangat menuntut ilmu.

Perjalanan panjang diusia belia membuat dirinya seakan tahan banting. Berbekal dirinya sering membaca serta berkreasi di bidang kimia, Aryanto berhasil menciptakan berbagai produk yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Temuan temuannya bahkan terdengar hingga penjuru dunia.

Beberapa tahun lalu, dirinya bahkan 'diajak' pergi ke Korea Utara. Aryanto mengaku, dirinya disana seakan ditipu oleh temannya karena ternyata dirinya disana diminta untuk memberikan informasi dan mempraktikan salah satu temuan besarnya yaitu bom hidrogen. Selama empat bulan berada di wilayah kekuasaan Kim Jong Un tersebut, dirinya mengaku khawatir dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia.

Setelah kembali ke Indonesia, Aryanto terus memulai berkreasi dengan berbagai inovasi dan teknologi. Seakan halangan dan rintangan tak lepas dari dirinya, Aryanto kembali menemukan permasalahan dalam dirinya. Aryanto di tipu oleh rekan bisnis hingga mengalami kerugian hingga ratusan juta. Tidak hanya tertipu ratusan juta, bahkan dirinya harus merasa beberapa penemuannyaa ingin dimiliki pihak lain dengan cara 'mencuri' resepnya serta untuk mendapatkan legalitas dirinya hampir menyerah karena merasa dipersulit oleh pihak pemerintah.

Disaat dirinya mulai bangkit untuk kembali mengembangkan usaha serta inovasinya, dan juga kembali mendapatkan pesanan dari inovasi inovasinya dalam jumlah yang besar, Aryanto kembali mendapatkan musibah. Rumah dan seluruh aset serta peralatan untuk mengembangkan inovasinya terendam banjir yang melanda desanya.

Harapan Kembali Datang

Disaat rasa depresi dan stres melanda dirinya, terlebih lagi Aryanto tidak mendapatkan pinjaman modal usaha melalui perbankan maupun teman-temannya untuk kembali meneruskan usahanya. Akhirnya Aryanto berhasil meyakinkan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui usaha Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) untuk memberikan modal usaha.

"Seakan UlaMM PNM membawa keberungan bagi diri saya, sebulan setelah dana pinjaman dari UlaMM cair, klien saya dari Jerman datang serta membeli resep dari salah satu inovasi saya dengan harga 1 miliar, dan tidak hanya itu, pembeli dari Jepang pun juga datang langsung ke rumah saya untuk membeli resep dengan harga 600 juta secara cash di tempat," ujar Aryanto.

Saat ini Aryanto telah bangkit dari keterpurukannya dan terus di bina oleh PNM untuk kembali mengembangkan usahanya. Berbekal inovasi dan ahli di bidang kimia dirinya terus berinovasi mengembangkan produk produknya, bahkan menjual resep kepada perusahaan atau ahli kimia di luar negeri untuk mengembangkan produknya.

Berbagai produk berbahan dasar alami terus ia ciptakan untuk kepentingan masyarakat. Mengesampingkan kepentingan materi yang ia dapatkan dirinya terus mengembangkan apapun yang diminta oleh masyarakat dan trus mengembangkan inovasinya.

"Yang saya rasakan saya diberikan kelebihan khusus oleh tuhan, bahkan dengan mencium ataupun menjilat suatu benda ataupun cairan saya bisa mengetahui zat zat kimia apa saja yang ada dalam kandungan barang tersebut," ujarnya.

Walaupun dipandang sebelah mata oleh ahli ahli dibidang kimia serta tidak dilirik oleh lembaga penelitian, dirinya tetap berinovasi bermodalkan pinjaman dana dan bimbingan dari PNM.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT