Yayasan Wings Peduli Kasih Bantu Penyandang Craniofacial

Direktur Yayasan Wings Peduli Kasih, Luciana Tanoyo, di sela kegiatan bantuan medis kepada penyandang craniofacial di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, Kamis, 7 Desember 2017. (Beritasatu Photo/Amrozi Amenan)

Oleh: Amrozi Amenan / FER | Kamis, 7 Desember 2017 | 18:47 WIB

Surabaya - Yayasan Wings Peduli Kasih memberikan bantuan medis berupa tindakan operasi untuk sejumlah penyandang craniofacial yang kebanyakan anak-anak berusia di bawah lima tahun, di RSUD Dr Soetomo Surabaya, Kamis (7/12).

Ketua Tim Medis Craniofacial RSUD Dr Soetomo Surabaya, Prof Dr dr Djohansjah Marzoeki Sp BPRE(K), mengatakan, craniofacial adalah kelainan pada tulang wajah dan jaringan lunak daerah kepala yang merupakan kecacatan bawaan lahir.

"Kelainan craniofacial ini merupakan kelainan anatomi yang biasanya merupakan kasus bedah dan butuh tindakan operatif. Untuk kasus yang ringan mungkin tidak perlu operasi, tetapi tetap di observasi," jelas Djohansyah.

Jika dalam perjalanannya menjadi berat, kata Djohansyah, maka dibutuhkan tindakan. "Kemudian untuk gejala yang muncul akibat dari kelainan anatomis ini, bisa diatasi dengan non bedah, misalnya infeksi telinga dengan obat antibiotik, mata kering dengan obat mata, gangguan sesak sewaktu tidur bisa dibantu dengan CPAP, dan lain-lain," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Yayasan Wings Peduli Kasih, Luciana Tanoyo, mengatakan, kegiatan pemberian bantuan medis ini merupakan tahun ke-9 dalam penandatanganan kerjasama empat pilar, yaitu Yayasan Wings Peduli Kasih, Yayasan Citra Baru Surabaya, RS Premiere Surabaya dan Tim Dokter RSUD Dr Soetomo.

"Yayasan Wings Peduli Kasih telah berkomitmen untuk ambil bagian dalam penanggulangan craniofacial sejak 2008. Selama 9 tahun, kami telah membantu hampir 200 anak penyandang craniofaclal. Selain tindakan medis, anak-anak tersebut juga akan mendapatkan beasiswa pendidikan," ujarnya.

Luciana menambahkan, saat ini masih banyak orang awam maupun dokter yang belum mengenali kelainan craniofacial. Karena itu pula, lanjut dia, pihaknya fokus pada isu craniofacial karena secara medis, penyandang craniofacial hanya mengalami kelainan fisik, bukan mental.

"Sangat disayangkan apabila penyandang craniofacial yang masih dalam usia sekolah tidak dapat mengenyam pendidikan semestinya. Kami mengutamakan pengobatan untuk anak dan remaja usia sekolah. Pertimbangannya karena dukungan untuk mereka tidak akan berhenti pada tahap pengobatan," kata Luciana.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT