Dinkes Depok Terus Cegah Penyebaran Difteri

Dinkes Depok Terus Cegah Penyebaran Difteri
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Noorzamanti Lies Karmawati. ( Foto: BeritaSatu Photo / Bhakti Hariani )
Bhakti Hariani / FMB Sabtu, 9 Desember 2017 | 10:45 WIB

Depok - Dinas Kesehatan Kota Depok fokus untuk mencegah penyebaran wabah difteri yang kini sudah menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kota Depok, Jawa Barat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Noorzamanti Lies Karmawati menuturkan pencegahan penyebaran difteri dilakukan dengan menghindari kontak dengan penderita difteri ataupun suspect difteri. Jika terjadi kontak maka harus segera mendapatkan obat antibiotik dan juga dilakukan pemeriksaan apus tenggorokan.

"Ini penting. Karena dengan memeriksa tenggorokan dapat diketahui apakah orang tersebut menderita difteri atau tidak. Tenggorokan penderita terdapat membran selaput berwarna keabu-abuan," ujar Lies kepada SP, Sabtu (9/12) di Depok, Jawa Barat.

Lebih lanjut diungkap Lies, untuk mencegah difteri maka masyarakat harus sadar dan peka untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di lingkungan rumah dan lingkungan sekitar. Hal yang juga yang tak kalah penting adalah memeriksa status imunisasi rutin pada anak-anak apakah sudah lengkap atau belum, kalau belum maka harus segera dilengkapi.

"Warga Depok juga harus mendukung pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) yang akan kami lakukan kepada anak dengan rentang usia 1-19 tahun," kata Lies.

ORI ini akan dilakukan sebanyak tiga kali yakni pada Desember 2017, Januari 2018 dan Juli 2018.

Sementara itu, terpisah, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Depok Yuliandi kepada SP menuturkan, hingga November 2017 ini dari 12 kasus difteri, delapan orang suspect difteri atau 75 persennya adalah orang yang tidak mendapatkan imunisasi difteri. Sedangkan 100 persen atau empat orang yang positif difteri adalah mereka yang imunisasinya tidak lengkap imunisasi.

"Kami segera melakukan penyelidikan epidemiologi dan memberikan obat profilaksis pada kasus kontak difteri ataupun carrier difteri," ujar Yuliandi.

Dinas Kesehatan Kota Depok juga akan meningkatkan cakupan imunisasi difteri secara merata di seluruh Depok dengan target 95 persen. Yuliandi mengatakan bahwa vaksin yang digunakan untuk difteri ini adalah vaksin yang terjamin kualitasnya dan dipantau secara berkala oleh Dinas Kesehatan.

"Kami juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang difteri dan pencegahannya. Kami juga akan jelaskan kepada mereka tentang pentingnya imunisasi sehingga mereka tidak menolak imunisasi," pungkas Yuliandi.

Sebelumnya diberitakan, satu orang anak berusia empat tahun di Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat meninggal dunia akibat penyakit difteri pada Juli lalu. Hingga November 2017 terdapat kasus 12 orang yang menderita difteri ataupun suspect difteri di Depok. Penolakan terhadap imunisasi difteri menjadi penyebab tingginya kasus difteri di Depok yang kemudian berkembang menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Imunisasi difteri diberikan pada anak sejak berusia bayi. Difteri diberikan sebanyak tujuh kali suntikan imunisasi kepada setiap orang. Difteri ditandai dengan gejala batuk, sesak nafas, demam dan munculnya pembengkakan pada kelenjar getah bening di bagian leher. Dalam pemeriksaan lebih lanjut di tenggorokan penderita difteri terdapat membran selaput berwarna keabu-abuan.



Sumber: Suara Pembaruan