Jaksa Sebut Novanto Berupaya Redam Ganjar

Jaksa Sebut Novanto Berupaya Redam Ganjar
Tersangka kasus korupsi proyek e-KTP, Setya Novanto (tengah), di bantu petugas KPK memasuki ruang sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu 13 November 2017. ( Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao )
Erwin C Sihombing / JAS Rabu, 13 Desember 2017 | 21:08 WIB

Jakarta - Upaya Setya Novanto memuluskan pembahasan anggaran proyek e-KTP di DPR terlihat dari caranya meredam anggota Komisi II DPR yang menurutnya bisa menghambat pengurusan proyek. Setidaknya, Ketua DPR nonaktif itu berupaya meredam Ganjar Pranowo selaku pimpinan Komisi II.

Dalam surat dakwaan Novanto yang akhirnya dibacakan tim jaksa KPK di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/12), disebutkan, Novanto merasa gerah karena Ganjar kerap mengkritisi konsep proyek e-KTP dari pemerintah.

Jaksa KPK Ahmad Burhanudin menuturkan, saking gerahnya, Novanto sampai menghampiri Ganjar saat bertemu di Bandara Ngurah Rai, Bali, sekitar tahun 2010-2011 dan menitip pesan untuk tidak galak-galak dalam pembahasan e-KTP.

"Bertempat di lounge Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, terdakwa menyampaikan kepada Ganjar Pranowo agar jangan galak-galak untuk urusan KTP Elektronik dengan mengatakan, 'Bagaimana Mas Ganjar. Soal e-KTP itu sudah beres ? Jangan galak-galak ya’,” kata Jaksa Burhanudin membacakan dakwaan.

Menanggapi pernyataan Novanto, lanjut jaksa Burhanudin, Ganjar menyatakan tidak ada urusan dengan proyek e-KTP. Mengenai fakta tersebut, Ganjar saat dihadirkan bersaksi untuk terdakwa Irman dan Sugiharto, telah mempertegasnya.

"Kalau saya temukan ada yang tidak benar, ya saya sampaikan saja," kata Ganjar.

Dalam surat dakwaan Novanto, disebutkan nama-nama yang diuntungkan atau diperkaya dari proyek e-KTP di antaranya adalah politisi-politisi di Senayan.

Mereka yang diperkaya Miryam S Haryani sebesar USD 1,2 juta, Markus Nari USD 400.000, Ade Komarudin USD 100.000, Jafar Hafsah USD 100.000 dan beberapa anggota DPR periode tahun 2009-2014 sebesar USD 12,85 juta dan Rp 44 miliar.

Selain itu, Irman sebesar Rp 2,3 miliar, USD887 ribu dan SGD 6.000, Sugiharto sejumlah USD 3,47 juta, Andi Agustinus alias Andi Narogong sejumlah USD 2,5 juta dan Rp 1,1 miliar, dan Gamawan Fauzi mendapatkan 1 unit ruko di Grand Wijaya dan sebidang tanah di Jalan Brawijaya III serta uang Rp 50 juta.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE