Banjir Rendam 21 Kelurahan di Tebing Tinggi

Banjir Rendam 21 Kelurahan di Tebing Tinggi
Petugas kepolisian turun membantu masyarakat korban banjir di Tebing Tinggi, Sumut. ( Foto: Beritasatu Photo/Arnold Sianturi )
Arnold H Sianturi / FER Kamis, 4 Januari 2018 | 20:12 WIB

Medan - Banjir besar kembali melanda 21 kelurahan di lima kecamatan di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara (Sumut), Kamis (4/1). Banjir dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter itu mengakibatkan ribuan rumah terendam.

Lima kecamatan yang terendam itu terdapat di Kecamatan Padang Hulu, Bajenis, Rambutan, Tebing Tinggi Kota dan Padang Ilir. Banjir ini terjadi karena dari hulu Sungai Padang meluap ke tengah pemukiman. Tidak ada hujan deras.

"Ada 13.340 jiwa yang meliputi 3.272 kepala keluarga menjadi korban banjir tersebut. Hulu dari Sungai Padang ini terdapat di Kabupaten Simalungun dan Serdang Bedagai," ujar Kepala BPBD Tebing Tinggi, Wahid Sitorus.

Wahid mengatakan, kawasan yang paling parah terendam banjir itu terdapat di Kelurahan Bandar Utama, Kecamatan Tebing Tinggi Kota. Ketinggian air yang semula mencapai 1,5 meter lambat laun menurun menjelang malam hari.

"Kita sudah mengerahkan petugas badan penanggulangan bencana dibantu aparat kepolisian untuk mengevakuasi masyarakat korban banjir. Kita juga turunkan bantuan ke tengah masyarakat. Pendataan pun masih dilakukan," katanya.

Menurutnya, pihaknya tetap melakukan koordinasi dengan aparat kepolisian bersama dengan masyarakat guna mengantisipasi datangnya banjir susulan. Koordinasi ini dinilai penting agar tidak ada korban jiwa menimpa masyarakat di sana.

Tidak hanya di Kota Tebing Tinggi, kawasan Medan Utara yang meliputi Kecamatan Medan Belawan, Medan Labuhan dan Medan Marelan, juga terendam. Banjir ini terjadi karena fenomena supermoon dan hujan deras yang melanda tiga kecamatan tersebut.

"Rob yang menerjang pemukiman masyarakat di sini sudah berjalan selama dua hari. Ini sudah sering terjadi menimpa masyarakat di sini," ujar Jalaluddin Ibrahim saat ditemui di Medan Labuhan.

Jalaluddin mengharapkan, pemerintah membangun tanggul agar pemukiman masyarakat tidak terdampak dari naiknya air laut tersebut. Bila rob terjadi maka seluruh rumah- penduduk pun terendam.

"Selain banyak warga yang mengalami kerugian besar karena banyak barang-barang elektronik yang mengalami kerusakan. Ini belum termasuk setelah banjir surut maka berbagai penyakit mulai menyerang masyarakat," jelasnya.

Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah I Medan, Syahnan mengharapkan, masyarakat yang tinggal di kawasan pesirir mewaspadai dampak air laut pasang secara maksimum. Rob terjadi karena fenomena Supermoon.

"Wilayah pesisir yang perlu diantisipasi masyarakat yang tinggal di kawasan Belawan, Kuala Tanjung, Pangkalan Susu di Kabupaten Langkat, Sibolga maupun di Nias. Sebaiknya, masyarakat update informasi dari BMKG," sebutnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE