Pemkab Kulonprogo Akan Cetak Sawah 5 Hektare Tahun Ini

Pemkab Kulonprogo Akan Cetak Sawah 5 Hektare Tahun Ini
Ilustrasi sawah ( Foto: Antara )
/ JAS Minggu, 14 Januari 2018 | 07:57 WIB

Kulon Progo - Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2018 ini akan mencetak sawah baru seluas lima hektare untuk meningkatkan jumlah produksi padi di daerah ini.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Bambang Tri Budi di Kulon Progo, Minggu (14/1), mengatakan pada 2015 dan 2016, Pemkab mencetak sawah baru seluas 70 hektare, dan 2017 tidak ada kegiatan.

"Pada 2018, kami akan mencetak sawah baru seluas lima hektare, dan menyusun Studi Investigasi Desain (SID) cetak sawah," kata Bambang.

Menurut dia, kendala utama cetak sawah baru yakni lahan untuk sawah merupakan tegalan yang banyak akar vegetasi, bebatuan dan tidak adanya jaringan irigasi, sehingga membutuhkan alat berat dan kerja keras masyarakat.

Potensi cetak sawah di Kulon Progo cukup luas, tapi terkendala oleh infrastruktur irigasi. Untuk cetak sawah baru, syaratnya harus tersedia jaringan air dan lahan. Kemudian, syarat cetak sawah baru yakni didukung infrastruktur jaringan air dan ketersediaan air.

"Potensi cetak sawah baru di Kulon Progo antara 300 hektare sampai 350 hektare, tapi untuk merealisasikan perlu dukungan infrastruktur jaringan irigasi," kata Bambang.

Menurut dia, perluasan lahan sawah baru sangat mendesak dilakukan untuk mengantisipasi alih fungsi lahan akibat megaproyek pembangunan bandara baru di Kecamatan Temon dan kawasan pendukung sekitar 350 hektare.

Sejak 2017, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Kulonprogo tengah membangun sipon-sipon dan Bendungan Tawang. Setelah selesai pembangunan sipon dan Bendungan Tawang (Pengasih) akan dipetakan lagi. Sejauh ini potensi lahan khusus Bendungan Tawang lebih dari 250 hektare.

"Potensi dapat lebih dari 250 hektare," katanya.

Selain itu, pihaknya siap mencetak sawah baru seluas 104 hektare dengan syarat pemerintah provinsi atau pusat memberikan anggaran pembangunan infrastruktur irigasi.

Ia menyebutkan potensi cetak sawah baru rencananya di Desa Sidomulyo seluas 50 hektare dan Desa Donomulyo 54 hektare.

"Potensi cetak sawah baru masih dapat bertambah lebih dari 104 hektare, tapi terkendala infrastrutrur jaringan irigasi," kata Bambang.

Pihaknya telah mengidentifikasi potensi cetak sawah baru dan telah menyusun SID lahan. Berdasarkan identifikasi dan SID, cetak sawah di Sidomulyo seluas 50 hektare membutuhkan infrastruktur jaringan irigasi dengan biaya Rp 6 miliar.

"Kalau hitung-hitungan investasi, cetak sawah seluas 50 hektare dengan biaya Rp 6 miliar, akan kembali modal dalam satu tahun. Misalnya satu kali panen menghasilkan 500 ton dan harga gabah kering giling Rp 4.000 per kg, maka sekitar Rp 2 miliar setiap kali panen," katanya.

Namun, ia mengakui potensi cetak sawah baru belum tentu dapat direalisasikan karena terkendala jaringan irigasi atau ketersediaan sumber air.

"Seperti di Samigaluh ada potensi cetak sawah luasannya berkisar satu sampai dua hektare. Tapi sumber airnya sulit, solusinya dibuat embung," katanya pula.



Sumber: ANTARA