Fredrich Sesumbar Bakal Ajak Advokat se-Indonesia Boikot KPK

Fredrich Sesumbar Bakal Ajak Advokat se-Indonesia Boikot KPK
Mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi, tiba untuk menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, 15 Januari 2018. ( Foto: Antara / Rosa Panggabean )
Fana Suparman / WBP Selasa, 16 Januari 2018 | 10:23 WIB

Jakarta - Pengacara Fredrich Yunadi nampaknya masih tidak menerima dengan statusnya sebagai tersangka kasus dugaan merintangi penyidikan perkara korupsi e-KTP yang menjerat mantan Ketua DPR, Setya Novanto. Dengan sesumbar, Fredrich mengklaim bakal mengajak 50.000 advokat di Indonesia untuk memboikot Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang telah menetapkannya sebagai tersangka.

“Saya imbau marilah advokat bergabung kita boikot KPK. Banyak sekali kurang lebih saya akan himpun 50.000 advokat di Indonesia akan boikot KPK,” kata Fredrich usai diperiksa sebagai tersangka di Gedung KPK Jakarta, Senin (15/1) malam.

Pernyataan itu disampaikan lantaran KPK telah melakukan kriminalisasi terhadap profesi advokat dan melecehkan Undang-undang advokat dengan menetapkannya sebagai tersangka. Fredrich menilai KPK tak memiliki bukti untuk menjeratnya. Fredrich membantah telah memanipulasi data medis Novanto bersama dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau (RSMPH), Bimanesh Sutarjo yang juga telah berstatus tersangka.

Fredrich juga membantah telah memesan ruang rawat di RSMPH sebelum Novanto kecelakaan. Fredrich berdalih tiba di rumah sakit itu pada pukul 20.30 WIB atau setelah Novanto mengalami kecelakaan. Namun, Fredrich mengakui memesan dua ruang rawat lainnya yang dipersiapkan untuk ajudan Novanto. "Saya booking satu kamar karena kamarnya kecil saya bilang ke rumah sakit boleh ga kamar yang kosong saya booking untuk ajudan, boleh selama tidak ada pasien silakan di-booking. Jadi saya booking tiga kamar," ungkapnya.

KPK tak ambil pusing dengan klaim Fredrich Yunadi yang bakal mengajak seluruh advokat memboikot lembaga antikorupsi. Jubir KPK, Febri Diansyah menegaskan proses hukum terhadap Fredrich bukan proses hukum terhadap seluruh advokat. Febri meminta seluruh pihak memisahkan antara perbuatan Fredrich yang diduga merintangi penyidikan dengan profesi advokat.
"Pemeriksaan FY (Fredrich Yunadi) bukan pemeriksaan terhadap seluruh asosiasi advokat. Jadi perlu dipisahkan agar publik tidak kemudian mempersepsikan seluruh advokat seperti FY, karena itu dua hal yang berbeda," kata Febri di Gedung KPK, Jakarta, Senin (15/1) malam.

Febri menyatakan Fredrich yang dijerat dalam kasus ini kebetulan berprofesi advokat. Namun bukan berarti seluruh advokat di Indonesia melakukan tindakan merintangi penyidikan seperti yang disangkakan kepada Fredrich. "Memang FY profesinya advokat, ia diduga merintangi kasus e-KTP. Apakah seluruh advokat merintangi penyidikan e-KTP? Logika sederhana tentu tidak, satu advokat yang kita proses. Jadi jangan sampai profesi advokat yang mulia ini digeneralisasi oleh pihak-pihak tertentu," tegasnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE