Wajah Wilayah Perbatasan Alami Perubahan Signifikan

Wajah Wilayah Perbatasan Alami Perubahan Signifikan
Proyek PLBN Nanga Badau yang dikerjakan oleh Brantas Abipraya. ( Foto: Istimewa )
Carlos KY Paath / FER Rabu, 17 Januari 2018 | 20:10 WIB

Jakarta - Wajah wilayah perbatasan Indonesia dinilai mengalami perubahan signifikan di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Kerja keras seluruh instansi terkait berhasil mengubah beranda terdepan Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) sekaligus Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo pada acara Rapat Koordinasi Pengendalian (Rakordal) Pengelolaan Perbatasan Negara Tahun 2017 dan Penajaman Program Prioritas Tahun 2018 di Jakarta, Rabu (17/1).

Tjahjo mengungkapkan, sebanyak tujuh pos lintas batas negara (PLBN) terpadu telah dibangun. Selain PLBN, banyak juga pembangunan infrastruktur jalan, transportasi, elektrifikasi, termasuk jaringan telekomunikasi. "Konektivitas kawasan perbatasan terhubung dan dapat dijangkau. Distribusi pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat dapat dipenuhi," kata Tjahjo.

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Skouw di Jayapura, Papua.

Menurut Tjahjo, pemerintah terus mengejar percepatan pembangunan sarana dan prasarana pelayanan sosial dasar serta perekonomian di kawasan perbatasan. Misalnya terkait tata niaga ekspor-impor dengan negara tetangga melalui PLBN terpadu. Langkah percepatan, lanjutnya, diperlukan untuk mengintegrasikan organisasi-organisasi perundingan mengenai batas wilayah negara. Tentunya dengan koordinasi penuh dari BNPP.

"Diperlukan pula optimalisasi, kerja keras dan keterpaduan perencanaan program antar kementerian atau lembaga dengan pemerintah daerah," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto, mengatakan, pemerintah berkomitmen mengalihkan pembangunan dari Pulau Jawa ke wilayah lain. Dengan begitu, tercipta keadilan pembangunan.

"Sekian lama menbangun di pusat perkotaan, di Pulau Jawa, maka sudah saatnya kita berpikir bahwa ada ketidakadilan di sini (perbatasan). Kita menciptakan keadilan. Kita sangat bahagia Pak Jokowi menerbitkan Nawa Cita yang didalamnya ada konsep membangun dari pinggiran, ini luar biasa,” kata Wiranto.

Diungkapkan, dirinya dan Tjahjo beberapa kali mengunjungi perbatasan. "Banyak rakyat yang merasa bukan rakyat Indonesia. Setel televisi, siarannya negara tetangga, mau beli beras murah dari negara tetangga, hiburan negara tetangga. Maka itu, buatlah masyarakat perbatasan itu agar merasa nyaman. Ketika ditanya siapa? Saya orang Indonesia," ungkapnya.

Kondisi tujuh PLBN sebelum direnovasi, menurut Wiranto, seperti kantor desa. Karenanya, Presiden memerintahkan agar segera dibangun PLBN yang melebihi bangunan negara tetangga.

"Beliau (Presiden) sampaikan, jika di sana (kantor perbatasan negara lain) dua tingkat, di sini tiga tingkat. Kalau di sana jalan tetangganya 10 meter, di sini 20 meter. Ini sudah bisa membuat bangga masyarakat kita di daerah perbatasan,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE