Pemerintah Dorong Waktu Tempuh Tol Jakarta-Bandung Kembali 3 Jam

Pemerintah Dorong Waktu Tempuh Tol Jakarta-Bandung Kembali 3 Jam
Antrean kendaraan melintas di ruas tol Jakarta Cikampek di kawasan Bekasi, Jawa Barat, 15 Juli 2015.. ( Foto: Antara/Paramayuda )
Thresa Sandra Desfika / YUD Minggu, 21 Januari 2018 | 17:24 WIB

Jakarta - Pemerintah menargetkan waktu tempuh Jakarta-Bandung melalui jalan tol kembali menjadi tiga jam perjalanan pada saat ramai mulai Februari 2018. Saat ini, waktu tempuh Jakarta-Bandung sudah lebih dari lima jam.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menjelaskan, jalan tol dari Jakarta ke Bandung sekarang ini acapkali dilanda kemacetan yang sudah tidak sesuai lagi dengan standar pelayanan. Pasalnya, dengan jarak sekitar 140 km antara Jakarta-Bandung dan waktu tempuh lima jam, maka kecepatan rata-rata kendaraan hanya berkisar 28 km/jam.

"Lalu lintas Jakarta-Bandung ditempuh 5-6 jam yang biasanya tiga jam. Ini satu hal yang luar biasa. Karenanya, hari ini kami meninjau untuk identifikasi permasalahan," jelas Budi saat melakukan peninjauan ke gerbang tol Cikarang Utama, Minggu (21/1).

Dia menambahkan, Kemenhub, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kepolisian, PT Jasa Marga, dan pemangku kepentingan lainnya siap berkoordinasi dan merealisasikan langkah strategis jangka pendek guna mengurangi kemacetan jalan tol dari Jakarta menuju Bandung maupun sebaliknya.

"Kami membuat suatu cara-cara yang terbaik, harapannya waktu tempuh bisa tiga jam. Bisa tiga jam ini kami harapkan terjadi dua atau tiga minggu yang akan datang," imbuh Budi.

Salah satu upaya ialah peningkatan upaya penegakan hukum terhadap truk dengan muatan lebih (overload) atau melanggar dimensi (overdimension). Budi meminta, jajaran Direktorat Jenderal Perhubungan Darat serta Kepolisian untuk aktif bersama melakukan penertiban truk overload dan overdimension di jalan tol setiap harinya mulai Senin (22/1).

Menurutnya, truk muatan lebih dan melanggar dimensi tersebut menghambat laju kendaraan di belakangnya karena lambat. Selain itu, truk-truk itu mengancam keselamatan lalu lintas sebab dari keseluruhan kecelakaan di jalan tol, 63% di antaranya disebabkan kendaraan berat

Lebih lanjut, Budi menghendaki, agar ada pemisahan lajur antara bus penumpang, truk pengangkut barang, dan kendaraan pribadi di jalan tok, terutama ruas Jakarta-Cikampek. Nantinya, bus akan khusus melintasi lajur 1, truk lajur 2, dan kendaraan pribadi serta lainnya di lajur 3 dan 4. Budi berharap, dengan model ini, maka bus penumpang bisa dapat prioritas sehingga waktu tempuhnya dapat lebih cepat.

"Kami juga akan batasi kendaraan besar atau truk itu dari pukul 6.00-9.00 pagi. Praktik pembatasan seperti ini lazim diberlakukan di luar negeri, jadi jangan dijadikan alasan (oleh operator truk) bisa terlambat (pengiriman barang)," ungkapnya.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Jasa Marga Desi Arryani mengutarakan, penyebab kemacetan tol Jakarta-Cikampek di antaranya volume kendaraan yang sudah melebihi kapasitas ideal serta pembangunan proyek seperti light rail transit (LRT) Jabodebek dan jalan tol Jakarta-Cikampek II.

"Selain itu, jumlah kendaran besar lebih dari 100.000 atau 20% dari total kendaraa. Dari jumlah kendaraan besar itu sekitar 76% overload. Karenanya, kecepatan jadi lamban karena badan kendaraan sangat berat dan antrian jadi panjang. Itu juga berakibat tngginya frekuensi kecelakaan yang kemudian menimbulkan bottleneck," imbuh Desi.

Oleh sebab itu, sambung Desi, pihaknya menyambut baik upaya yang dilakukam Kemenhub dan Kepolisian menggelar pemeriksaan rutin terhadap truk overload dan overdimension di jalan tol.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE