Kepengurusan Golkar Dinilai Sarat Kompromi

Kepengurusan Golkar Dinilai Sarat Kompromi
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (tengah depan) berfoto bersama pengurus partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta, 22 Januari 2018. ( Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao )
Robertus Wardi / FER Senin, 22 Januari 2018 | 22:31 WIB

Jakarta - ‎Analis politik dari Exposit Strategic, Arif Susanto menilai, struktur kepengurusan baru Partai Golkar sarat kompromi dan akomodasi. Hal itu terlihat dari dimasukkanya figur-figur dari kubu yang sebelumnya berlawanan selama Munaslub. Kondisi tersebut, membuat struktur kepengurusan partai masih gemuk.

"Namun, perimbangan kekuatan dan keberagaman representasi yang terjadi bisa membuat kekuasaan Ketua Umum Airlangga Hartarto stabil, sedikitnya hingga 2019 nanti," kata Arif di Jakarta, Senin (22/1).

Menurut Arif, pihaknya melihat penunjukan Letnan Jenderal (Purn) Lodewijk Freidrich Paulus sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) cukup mengejutkan. Meski nama ini sudah masuk dalam kepengurusan terdahulu, namun posisi penting yang diemban mantan Danjen Kopassus ini agaknya terkait dengan strategi untuk menghadapi persaingan semakin keras antar-partai menuju Pemilu 2019. "Loedwijk belum banyak dikenal tapi bagian dari strategi menghadapi pemilu," tuturnya.

Arif menjelaskan,‎ kepengurusan juga cukup berwarna karena memadukan figur-figur senior seperti Indra Bambang Utoyo dan figur-figur muda seperti Ahmad Doli Kurnia. Dengan model tersebut, Golkar tampaknya tidak ingin terus-menerus bergantung kepada para pemilih tradisionalnya. "Golkar sudah mulai membidik kelompok lebih muda sebagai basis pemilih, termasuk pemilih pemula," jelasnya.

Dia menambahkan, dalam menjalankan organisasi, Airlangga menghadapi beberapa tantangan penting. Pertama, mempertahankan soliditas internal partai. Kedua, mengupayakan kemenangan pasangan yang diusung dalam Pilkada serentak 2018. Ketiga, mengembangkan posisi tawar lebih baik berhadapan dengan Presiden Jokowi hingga 2019.

"Keempat, membuktikan bahwa Golkar bersih bukan semata slogan dan kelima, meraih simpati publik yang terus menurun sejak 1999," tutup Arif.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE