Ini Tiga Penantang Kuat Jokowi di Pilpres 2019

Ini Tiga Penantang Kuat Jokowi di Pilpres 2019
Presiden Joko Widodo. ( Foto: Antara / Wahyu Putro A )
Yustinus Paat / YUD Jumat, 2 Februari 2018 | 17:36 WIB

Jakarta - Survei terbaru Lembaga Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan empat tokoh yang bakal menjadi penantang kuat Presiden Joko Widodo di Pemilihan Presiden tahun 2019 mendatang. Keempat tokoh ini dibagi dalam tiga divisi sesuai dengan tingkat pengenalan atau popularitas tokoh.

Survei nasional ini dilakukan dengan wawancara tatap muka terhadap 1200 responden yang dipilih berdasarkan metode multi stage random sampling. Survei dilakukan dari 7-14 Januari 2018 dengan margin of error plus minus 2,9 persen. Survei dilengkapi dengan riset kualitatif seperti FGD, media analisis, dan depth interview narasumber.

"Berdasarkan hasil survei kami, ada yang empat tokoh capres yang bakal menjadi panantang kuat Jokowi di Pilpres 2019. Keempatnya dibagi dalam tiga divisi sesuai dengan tingkat popularitasnya masing-masing," ujar Peneliti LSI Denny JA Adjie Alfaraby saat rilis hasil survei di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (2/2).

Divisi 1 (satu), kata Adjie, untuk tokoh atau capres yang popularitasnya diatas 90 persen. Dari nama-nama yang akan bertarung hanya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang masuk ke dalam Divisi 1.

"Ternyata penantang divisi satu penghuninya hanya satu tokoh saja, Prabowo Subianto dengan tingkat popularitas di angka 92,5 persen," ungkap dia.

Sementara di divisi dua, lanjut Adjie, ada dua tokoh yang muncul, yakni Anak Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harmurti Yudhoyono dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Keduanya, masuk divisi dua karena tingkat popularitasnya di angka antara 70-90 persen.

"Jadi, tokoh yang masuk ke dalam divisi dua ini hanya Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Popularitas Anies Baswedan sebesar 76,7 persen dan popularitas AHY sebesar 71,2 persen. Popularitas keduanya naik setelah Pilkada DKI Jakarta," ungkap dia.

Divisi terakhir, kata Adjie adalah divisi tiga untuk tokoh atau capres yang popularitasnya di antara 55-70 persen. Tokoh yang memenuhi kriteria ini hanyalah Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dengan popularitas sebesar 56,5 persen.

"Sayangnya sejak pensiun, kiprah Gatot memudar. Padahal ibarat pentas, penonton masih rindu dan bertepuk tangan menanti atraksinya," tandas dia.

Rematch Jokowi Vs Prabowo

Lebih lanjut, Adjie mengatakan terbuka kemungkinan terjadi pertarungan ulang atau rematch Jokowi berhadapan dengan Prabowo di Pemilu 2019. Hal ini berarti mengulang pipres 2014. Menurut dia, jika hal ini terjadi, yang mendapat untung adalah Partai Gerindra.

"Jika rematch ini terjadi, yang pasti Partai Gerindra akan sangat diuntungkan. Pasalnya, ini pertama kali pemilu nasional serentak. Dalam satu TPS dan satu momen, pemilih mencoblos capres dan partai dalam pemilu legislatif. Besar kemungkinan mereka mencoblos capres untuk pilpres sejalan dengan mencoblos partai utama sang capres untuk pileg," ungkap dia.

Menurut Adjie, Prabowo memang atau kalah tetap akan memberikan dampak positif untuk partai Gerindra. Pasalnya, sebagai penantang terkuat Jokowi, Prabowo otomatis melambungkan Partai Gerinda.

"Itu akan menjadi marketing strategis bagi Gerindra sendiri. Apalagi Prabowo adalah figur sentral Partai Gerindra," pungkas dia.

Adjie kemudian mengusulkan agar pasca pilpres 2019, dibangun tradisi yang disebut coopetiton. Istilah ini, kata dia mengacu pada kata competition dan co operation, yakni berkompetisi kemudian bekerja sama.

"Jadi, agar terbentuk pemerintahan yang kuat, capres yang bertarung dalam pemilu dapat bekerja sama setelah selesai pemilu. Dua capres utama bisa membentuk pemerintahan bersama. Yang menang mengajak yang kalah dalam pemerintahan baru. Ini akan mengurangi ketegangan pemerintahan baru seperti yang terjadi di tahun 2014," terang dia.



Sumber: BeritaSatu.com