Jirharsani, Perempuan Berhijab yang Tak Risih Bantu Bersihkan Gereja Lidwina

Jirharsani, Perempuan Berhijab yang Tak Risih Bantu Bersihkan Gereja Lidwina
Perempuan berhijab, Jirharsani yang ikut membersihkan Gereja Santa Lidwina Trihanggo Gamping Sleman menjadi sorotan media massa, karena empatinya yang dalam pada insiden Minggu, 11 Februari 2018. ( Foto: Suara Pembaruan/Fuska Saani )
Fuska Sani Evani / CAH Selasa, 13 Februari 2018 | 10:19 WIB

Yogyakarta - Kota Yogyakarta sebagai simbol dari kehidupan yang penuh kedamaian dan toleransi, terusik akibat teror yang dilakukan pemuda bernama Suliyono di Gereja Santa Lidwina Trihanggo Gamping Sleman, Minggu (11/2) lalu. Sebelumnya, sekelompok organisasi kemasyarakatan (ormas) menentang acara bakti sosial yang digelar sebuah gereja di Bantul.

Yogyakarta yang punya slogan Adem-Ayem mendadak menjadi sorotan dunia. Namun, di balik hiruk-pikuk, praduga tentang kelompok-kelompok teroris di balik kenekatan Suliyono, foto seorang perempuan berhijab sedang membersihkan gereja yang sempat porak-poranda menjadi viral dan menyulut empati publik.

Siapakah perempuan itu? Sejumlah jurnalis pun mengangkat wajah damai itu di berbagai lini media.

Perempuan itu bernama Jirharsani. Dia tinggal di kawasan Nogotirto Sleman dan merupakan tetangga dari mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Buya Ahmad Syafii Maarif (Buya). Dia datang ke Gereja Santa Lidwina bersama suaminya yang seorang dokter anestesi di PKU Muhammadiyah, Bantul.

Ibu rumah tangga datang pagi-pagi, Senin (12/2) dan langsung bergabung bersama umat Katolik setempat untuk membersihkan Gereja.

Beberapa umat sempat terpana, tetapi segera menerima Jirharsani dengan tangan terbuka.

“Saya memang sudah niat sejak tadi malam untuk akan turut membantu membersihkan gereja ini,” kata Jirharsani yang mengaku mendengar kalau sosok yang menjadi panutannya, yakni Buya Syafii Maarif pun sudah berkunjung ke gereja itu.

Jirharsani mengaku tidak risih masuk kawasan gereja. Baginya, masuk gereja sama saja dengan masuk ke rumah ibadah lainnya. Yang penting baginya, bisa berbuat dan jangan hanya berucap.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE