Ini Cerita Aiptu Al Munir Tantang Duel Pelaku Teror Gereja Lidwina

Ini Cerita Aiptu Al Munir Tantang Duel Pelaku Teror Gereja Lidwina
Aiptu Al Munir mendapatkan luka gores hingga harus dijahit saat menghadapi pelaku teror Gereja Santa Lidwina Gamping Sleman, Minggu, 11 Februari 2018. ( Foto: Suara Pembaruan/Fuska Saani )
Fuska Sani Evani / CAH Selasa, 13 Februari 2018 | 11:17 WIB

Yogyakarta - Seorang Polisi berpangkat Aiptu mendadak jadi pembicaraan publik usai insiden penyerangan Gereja Santa Lidwina Minggu (11/2).  Berkat keberaniannya menantang duel pelaku, Suliyono (23), Aiptu Al Munir (57) yang satu tahun lagi akan pensiun dari tugasnya di Kepolisian, akan mendapatkan penghargaan khusus dari Kapolda DIY pada Rabu (14/2) esok.

Tapi apa bentuk penghargaannya, Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yuliyanto mengatakan, sampai Senin (12/2) masih dibicarakan. Namun tindakan Al Munir sangat tepat dan terukur. Oleh sebab itu, Munir dan dua rekannya, Erwin dan Praswanto akan mendapat penghargaan.

Meski harus mendapatkan empat jahitan di lengan tangan kirinya, Aiptu Munir pun menceritakan secara langsung kejadian berdarah tersebut. Saat dia mendapat "jatah" tugas jaga di Polsek Gamping, dia menerima telepon dari warga tentang adanya orang mengamuk di Gereja Santa Lidwina Bedog lepas pukul 7 pagi.

Bersama dua kawan sesama polisi, Aiptu Munir lantas bergegas menuju loksi menggunakan mobil patroli Polsek Gamping. Jarak 10 kilometer ditempuh selama 10 menit, namun Munir harus berlari masuk, karena saat itu, sudah terjadi kepanikan dan terhalang kendaran yang terparkir.

“Saat itu mobil hanya bisa berhenti sekitar 50 meter dari gereja dan saya langsung lari menuju ke dalam karena umat sudah berada di luar semua. Saat itu pelaku memang berada di depan dan saya pelan-pelan maju sembari berteriak ‘jangan bergerak, saya polisi’ dan melakukan tembakan peringatan ke atas, tetapi pelaku tidak takut, malah menyerang ke arah saya,” ungkapnya di Mapolda DIY Senin (12/2).

Dengan muka penuh kemarahan dan emosi, pelaku menyabetkan pedang kepada Al Munir. Munir pun langsung mengarahkan pistol revolvernya ke kaki kiri pelaku. Meski sudah tertembus timah panah, pelaku terus meringsek.

“Tembakan pertama ke kaki kiri itu ternyata pelaku masih lincah, menyabetkan pedangnya hingga mengenai tangan kiri saya. Langsung saya arahkan senapan ke kaki kanan dan mengenai bagian lutut, kemudian pelaku masih sempat mendorong saya, saya juga terjatuh. Hampir saja tubuh saya terkena sabetan pedang, kalau saja saya tidak menendang kakinya. Pelaku juga akhirnya terjatuh, sebelum akhirnya massa ikut mengamankan,” ujar Munir.

Drama melumpuhkan pelaku ternyata belum selesai di situ, Munir bersama Erwin dan Praswanto ketiganya polisi lalu berusaha mengamankan pelaku dari massa yang emosi.

“Kami berpikir, jangan sampai pelaku ini mati akibat amuk massa, karena pasti penyelidikan akan buntu. Pelaku harus hidup agar kasus ini bisa terbuka, dan mempertanggung-jawabkan perbuatannya,” ujar Munir.

Bapak dua anak asli Bantul ini pun menyatakan, tidak ada rasa takut menghadapi Suliyono berkat pengalamannya selama 34 tahun mengabdi di Kepolisian. Bahkan selama 25 tahun, dirinya menjadi bagian dari Reskrim. 15 tahun dia jalani di Jakarta dan 10 tahun di Jabar. Meski baru tujuh tahun berdinas di DIY, Munir mengaku masih punya keberanian untuk berduel.

Selain lengan tangan kirinya yang terluka, Munir pun mengatakan sepatu kirinya pun robek akibat sabetan pedang pelaku. Beruntung jari kelingkingnya hanya tergores.

Berkat keberaniannya itu, Kapolda DIY, Brigjen Pol Ahmad Dofiri memanggil khusus Munir ke ruangannya untuk menyampaikan apresiasinya.

Kapolda DIY juga sempat menyampaikan, boleh saja Munir langsung menembaknya, karena tembakan peringatan tidak dihiraukan, bahkan malah lebih beringas. Namun Munir memilih menantang bahaya untuk menyelamatkan warga dan pelaku sekaligus.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE