Eks Direktur Teknik Garuda Indonesia Mangkir dari Pemeriksaan KPK

Eks Direktur Teknik Garuda Indonesia Mangkir dari Pemeriksaan KPK
Ilustrasi KPK. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / YUD Selasa, 13 Februari 2018 | 19:39 WIB

Jakarta - Mantan Direktur Teknik PT Garuda Indonesia Hadinoto Soedigno tak memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) alias mangkir, Selasa (13/2). Hadinoto yang kini menjabat sebagai Direktur Produksi Citilink sedianya diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan 50 mesin pesawat Airbus A330-300 di PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada periode 2004-2015.

Jubir KPK, Febri Diansyah menyatakan, atas ketidakhadiran Hadinoto hari ini, tim penyidik menjadwalkan ulang pemeriksaannya. Rencananya, tim penyidik bakal memeriksa Hadinoto pada Kamis (15/2).

"Pemeriksaannya dijadwalkan ulang Kamis lusa," kata Febri di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (13/2).

Selain Hadinoto, dalam mengusut kasus ini, tim penyidik juga menjadwalkan memeriksa sejumlah pegawai dan petinggi aktif maupun pensiunan PT Garuda Indonesia. Sejumlah saksi itu diantaranya, mantan Executive Project Manager PT Garuda Indonesia, Kapten Agus Wahjudo, dan dua Pegawai PT Garuda Indonesia, Victor Agung Prabowo dan Adrian Azhar yang merupakan l Corporate Expert PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan mantan EPM Fleet Acquisition PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Dikatakan Febri, dalam pemeriksaan kali ini, tim penyidik mendalami proses pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia. Tak hanya itu, tim penyidik juga mendalami mengenai aliran dana pada sejumlah pihak terkait kasus ini.

"Dari para saksi yang diperiksa penyidik masih mendalami terkait proses pengadaan di Garuda Indonesia dan aliran dana pada sejumlah pihak," katanya.

Dalam pengembangan kasus ini, tim penyidik mendalami peran salah satu saksi dalam proses pengadaan di PT Garuda Indonesia. Hal ini lantaran saksi tersebut merupakan pejabat yang memimpin proses pengadaan di PT Garuda Indonesia saat kasus ini bergulir.

"Pada salah satu saksi kita dalami juga peran dan pengetahuannya sebagai pejabat yang memimpin proses pengadaan di Garuda Indonesia.

Pemeriksaan saksi-saksi dan tersangka lain akan terus dilakukan," katanya.

Diketahui, KPK telah menetapkan mantan Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dan pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA) yang juga beneficial owner Connaught International Pte. Ltd, Soetikno Soedarjo sebagai tersangka kasus dugaan suap pengadaan 50 pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia.

Selama menjabat sebagai Dirut PT Garuda Indonesia pada 2005 hingga 2014, Emir diduga menerima uang sebesar USD 2 juta dan dalam bentuk barang senilai USD 2 juta dari Rolls-Royce melalui pendiri PT MRA Group Soetikno Soedarjo dalam kapasitasnya sebagai Beneficial Owner Connaught International Pte.ltd.

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Emir dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP. Sementara Soetikno disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE