KPK Bantah Tudingan Novel Tak Kooperatif Terkait Kasus Teror

KPK Bantah Tudingan Novel Tak Kooperatif Terkait Kasus Teror
Novel Baswedan. ( Foto: Antara/Monalisa )
Fana Suparman / JAS Selasa, 13 Februari 2018 | 19:59 WIB

Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membantah tudingan Komisioner Ombudsman, Adrianus Meliala yang menyebut Novel Baswedan tidak kooperatif terhadap kepolisian yang menangani kasus teror terhadapnya.

Jubir KPK, Febri Diansyah menyatakan, sebagai seorang korban, Novel tak memiliki beban untuk mengungkap teror yang dialaminya. Sebaliknya, proses pembuktian sebuah kasus seharusnya berada di tangan penegak hukum.

"Intinya jangan bebankan proses pembuktian pada korban. Kalau korban yang harus membuktikan maka itu sama saja kita melemparkan tanggung jawab pada korban," kata Febri di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (13/2).

Dikatakan Febri, Novel tak mengetahui secara pasti sosok penerornya. Hal ini lantaran mata Novel lebih dulu terkena air keras sebelum dapat mengenali pelaku.

"Novel tidak mungkin tahu siapa yang menyiramnya karena sebelum dia bisa mengetahui itu matanya sudah disiram pada Selasa subuh itu. Jadi bagaimana mungkin bertanya pada orang yang menjadi korban penyiraman tersebut. Siapa yang menyiramnya dan lain-lain," katanya.

Menurut Febri, penyidik kepolisian seharusnya memiliki metode investigatif yang sistematis dalam menuntaskan kasus ini dan menangkap pelaku. KPK sendiri terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian yang menangani kasus ini.

Diketahui, Adrianus menilai Novel telah menyulitkan pembuktian kasusnya. Menurut Adrianus, Novel tidak kooperatif dengan hanya sedikit memberikan keterangan mengenai peristiwa penyerangan yang dialaminya pada Selasa (11/4) lalu tersebut.

"Novel tidak kooperatif dalam pemeriksaan. Kemudian Novel selalu irit bicara dan selalu bilang serahkan pada TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta)," kata Adrianus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (13/2).

Diketahui, Novel diteror dengan disiram air keras oleh dua orang tak dikenal pada 11 April 2017 lalu. Akibatnya, Novel harus dirawat intensif di salah satu rumah sakit di Singapura hingga kini karena kedua matanya terluka parah. 

Bahkan, Novel harus menjalani serangkaian operasi untuk memulihkan kondisi kedua matanya. Sementara di sisi lain, setelah lebih dari 10 bulan berlalu, pihak kepolisian belum mampu mengungkap dan menangkap peneror Novel.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE