2.000 Dosen dan Mahasiswa Unsrat Kembalikan Dana Rp 10,6 M

2.000 Dosen dan Mahasiswa Unsrat Kembalikan Dana Rp 10,6 M
Ellen Joan Kumaat. ( Foto: unsrat.ac.id )
Margaretha Feybe L / AB Rabu, 14 Februari 2018 | 12:43 WIB

Manado - Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (13/2), mendatangi kantor rektorat Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado guna mengklarifikasi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2015. Temuan itu menyangkut tuntutan ganti rugi senilai Rp 10,6 miliar kepada sekitar 2.000 dosen dan mahasiswa Unsrat dalam sejumlah kegiatan dan kepanitian sepanjang tahun 2015.

Rektor Unsrat Prof Ellen Joan Kumaat kepada wartawan mengatakan kedatangan tim KPK hanya untuk mengklarifikasi pengaduan masyarakat terkait hasil pemeriksaan BPK tahun 2015.

“Kami mendukung penuh upaya KPK memeriksa temuan kelebihan bayar dalam audit BPK tahun 2015. Sebagai warga negara yang baik tentunya kita mendukung upaya tersebut," katanya.

Secara terpisah juru bicara Unsrat, Hesky Kolibu mengatakan KPK mengklarifikasi tugas pokok dan fungsi yang dilakukan aparatur pemerintah di Unsrat berkaitan dengan pembayaran honor kepanitiaan dan modul yang dinilai tidak sesuai.

Sejumlah dosen dan mahasiswa yang namanya tercantum dalam daftar tuntutan ganti rugi mengaku telah mengembalikan dana setelah mendapat pemberitahuan dari pimpinan Unsrat pada Desember 2017.

“Kami diminta untuk mengembalikan uang tersebut sejak Desember 2017. Kami tidak menerima uang tersebut, tetapi kami terpaksa harus mengembalikannya,” ujar salah seorang dosen yang meminta namanya tak disebut.

Hal senada disampaikan salah seorang mantan pengurus Badan Eksekutif Mahasisa (BEM) pada salah satu fakultas di Unsrat. Dia mengaku harus mengembalikan dana Rp 250.000, karena namanya tercantum dalam kepanitiaan salah satu kegiatan.

“Dana itu tidak pernah saya terima. Menurut informasi dari kantor rektorat, dana itu ditransfer ke rekening saya, padahal saya tidak pernah memberikan nomor rekening. Jangankan memberikan nomor rekening, buku bank saja saya tidak punya,” tuturnya.

Tuntutan ganti rugi itu tidak hanya terjadi pada satu kegiatan, tetapi sejumlah kegiatan. Sejumlah dosen dan mahasiswa mengaku tidak pernah terlibat dalam kegiatan tersebut.

"Pada salah satu daftar tuntutan ganti rugi, tercantum nama seorang petugas cleaning service. Ada juga dosen di Fakultas Kedokteran, tetapi kepanitiaannya di Fakultas Teknik. Memang aneh sekali, tetapi dipaksa untuk mengembalikan uang itu," katanya. 



Sumber: Suara Pembaruan