Buya Syafii Maarif: Penyerang Gereja Lidwina Mampu Berkomunikasi dengan Baik

Buya Syafii Maarif: Penyerang Gereja Lidwina Mampu Berkomunikasi dengan Baik
Syafii Maarif ( Foto: Antara )
Fuska Sani Evani / BW Rabu, 14 Februari 2018 | 13:18 WIB

Yogyakarta- Pelaku penyerangan di Gereja St Lidwina, Bedog, Trihanggo, Sleman, Minggu (11/2), Suliyono, mampu berkomunikasi dengan baik.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Ahmad Syafii Maarif saat dikonfirmasi atas kunjungannya kepada pelaku di RS Bhayangkara Yogyakarta, mengatakan, Suliyono mampu berkomuniksi dengan baik. Namun, untuk keterangan lengkapnya, ujar Buya, silakan membaca di akun Facebook milik tetangganya, Alim.

Buya memang mendatangi langsung Gereja Bedog tidak lama setelah insiden penyerangan, juga menjenguk pelaku.

Dalam tulisan itu, Alim menuturkan, kedatangan Buya ke Gereja Bedog adalah sebuah kebetulan. Saat itu, Buya bersama tetangganya Alim dan Salam tengah makan di sebuah warung yang tak begitu jauh dari gereja.

Pemilik warung lantas mengatakan, ada sebuah insiden di Gereka St Lidwina, yang tak jauh dari warung tersebut. Buya langsung menuju ke Gereja St Lidwina. Setelah itu langsung menuju ke RS Bhayangkara sesuai informasi dari Kepolisian.

Dia bahkan sempat berdialog dengan Suliyono yang telah dilumpuhkan oleh polisi dengan timah panas di kedua kakinya. Sekitar setengah jam, Buya berdialog empat mata dengan pelaku.

“Beberapa hal yang bisa saya ceritakan ulang di sini antara lain bahwa pelaku masih sangat muda, 23 tahun, kelahiran 16 Maret 1995. Pernah kuliah 2 semester dan mondok 3 tahunan di Jawa Tengah. Ia baru tinggal di area situ lima harian," ujar Alim dalam Facebook.

Berdasar rekaman pembicaraan Buya dengan pelaku, Alim menuliskan bahwa pedang yang digunakan oleh Suliyono diperoleh dari hasil menjual telepon genggam. Buya bahkan mengungkapkan, Suliyono mampu berbicara lancar, menyambung, dan bisa menjawab pertanyaan.

Menurut Buya, Suliyono berencana pulang ke rumah orangtuanya pada hari Selasa (13/2). Namun, Suliyono mengaku siap mati di gereja pada Minggu (11/2) kemarin.

Buya juga menegaskan, Suliyono bahkan mampu menjawab pertanyaan dalam bahasa Arab. "Dia sadar, bisa ngobrol-ngobrol, lama tadi," lanjutnya.

Buya Syafii mengaku kunjungan yang dilakukannya memang dalam rangka 'merangkul'. Pendekatan ini dilakukan sebagai bagian deradikalisasi paham pelaku penyerangan. Buya Syafii yakin pemikiran pelaku penyerangan dapat berubah, salah satunya dengan pendekatan lembut.

Bagi Buya, mendekati orang-orang semacam Suliyono, butuh pendekatan secara hati. “Mau pakai dalil-dalil agama, mereka (pelaku) lebih paham. Butuh pengetahuan yang lebih tinggi dari mereka,” katanya.

Buya juga menegaskan, penanganan terhadap pelaku tidak cukup hanya dilakukan lewat jalur hukum.



Sumber: Suara Pembaruan