"Itunya" Jadi Kode Suap Bupati Subang

Imas Aryumningsih. ( Foto: subang.go.id )
Fana Suparman / JAS Kamis, 15 Februari 2018 | 08:20 WIB

Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyematkan status tersangka terhadap Bupati Subang, Imas Aryumningsih, pihak swasta bernama Miftahhudin dan Darta serta Kepala Bidang Perizinan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Subang , Asep Santika.

Empat orang yang ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Bandung dan Subang ini ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait perizinan di lingkungan Pemkab Subang. Imas, Darta, dan Asep diduga menerima suap sebesar Rp 1,5 miliar dari Miftahhudin agar memuluskan izin yang diajukan PT ASP dan PT PBM.

Untuk mengelabui aparat penegak hukum, Imas dan tiga tersangka lainnya menggunakan kode "itunya". Kode tersebut merujuk pada uang suap.

"Dalam komunikasi pihak-pihak terkait dalam kasus ini, digunakan kode 'itunya' yang merujuk pada uang akan diserahkan," kata Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (14/2) malam.

Basaria menuturkan, OTT ini bermula dari informasi yang diterima tim Satgas KPK dari masyarakat. Menindaklanjuti informasi tersebut, KPK melakukan penyelidikan dan menerjunkan tim di Bandung dan Subang.

Dalam OTT tersebut KPK mengamankan delapan orang yakni, Chandra Agus Setia (Ajudan Imas); Koko (sopir Imas); Miftahudin; Imas Aryumningsih (Bupati Subang); Indah (Asisten Pribadi Imas); Asep Santik; Sutiana (Pelayanan Perizinan DPMPTSP); serta Darta.

"Awalnya kami mendapatkan informasi dari masyarakat dan melakukan serangkaian kegiatan penyelidikan. KPK melakukan tangkap tangan pada Selasa ,13 Februari 2018, di beberapa lokasi terpisah di Subang dan Bandung," kata Basaria.

Mulanya, tim Satgas KPK bergerak ke rest area Cileunyi, Bandung sekitar pukul 18.30 WIB. Dari lokasi ini, tim mengamankan Darta. Dari tangan Darta, tim menyita uang tunai sekitar Rp 62 juta.

"Dari tangan D (Data) tim mengamankan uang senilai Rp 62.278.000," katanya.

Secara paralel, tim KPK lainnya juga mengamankan Miftahudin pihak swasta yang diduga sebagai pemberi suap di Subang‎ sekira pukul 19.00 WIB. Kemudian, tim lainnya juga bergerak ke rumah dinas Bupati Subang, Imas Aryumningsih.

"Dari lokasi tersebut tim membawa Imas serta dua orang ajudan dan supir," tuturnya.

Setelah itu, tim juga mengamankan secara berturut-turut mengamankan dua orang lainnya yakni Asep Santika dan Sutiana ‎di kediamannya masing-masing. Dari tangan kedua orang tersebut, tim mengamankan sejumlah uang.

"Dari tangan ASP diamankan uang sebesar Rp 225 juta dan dari tangan S diamankan uang senilai Rp 50 juta," ungkapnya.

Delapan orang yang diamankan tersebut kemudian dibawa tim Satgas ke Gedung KPK, Jakarta untuk diperiksa intensif. Setelah pemeriksaan dan melakukan gelar perkara, KPK menetapkan Imas Aryumningsih, Asep Santika, Miftahudin, dan Darta sebagai tersangka. Imas diduga menerima uang dari Miftahhudin terkait izin mendirikan pabrik atau tempat usaha yang diajukan PT ASP dan PT PBM.

Diduga antara pemberi dan perantara telah terjadi kesepakatan suap yang diberikan senilai Rp 4,5 miliar. Sementara komitmen fee antara perantara dan Imas sebagai penerima suap sebesar Rp 1,5 miliar

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Miftahhudin yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara itu, sebagai pihak yang diduga sebagai penerima, Imas, Data dan Asep disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE