LIPI Bangun Fasilitas Pengembangan Obat Tradisonal Terstandar

LIPI Bangun Fasilitas Pengembangan Obat Tradisonal Terstandar
Peletakan batu pertama fasilitas CPOTB, di Puspitek, Serpong Tangerang Selatan, Kamis (8/3). ( Foto: Beritasatu Photo/Ari Supriyati Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Kamis, 8 Maret 2018 | 14:43 WIB

Tangerang Selatan - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan memiliki fasilitas pengembangan obat tradisional dengan standar cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) di kawasan Puspitek, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel). CPOTB akan membantu usaha kecil menengah (UKM) mengembangkan jamu atau obat tradisional lebih bermutu dan berstandar. Selain itu, hasil penelitian obat tradisional di fasilitas ini juga didorong agar bisa digunakan kelak oleh masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala LIPI, Bambang Subiyanto, mengatakan, melalui fasilitas ini, pihaknya mendorong penelitian obat karena sumber daya alam Indonesia besar. Belum lagi sumber daya laut yang belum banyak digali.

"Melalui fasilitas ini, kita bantu UKM yang sulit mendapatkan izin karena standarisasi. Kita coba bantu hingga skema harga dan uji coba produksi," kata Bambang di sela-sela peletakan batu pertama fasilitas CPOTB, di Puspitek, Serpong Tangerang Selatan, Kamis (8/3).

Menurut Babang, saat ini potensi obat tradisional belum diangkat secara optimal. Padahal Indonesia kaya sumber daya alam. Namun hingga saat ini, hampir 95 persen bahan baku industri farmasi di Indonesia bergantung impor. Padahal Indonesia memiliki lebih 30.000 spesies tanaman berkhasiat sebagai bahan obat. "Potensi obat tradisional perlu diangkat, jamu pun harus go international," ucapnya.

Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Agus Haryono, mengungkapkan, ditargetkan fasilitas ini akan beroperasi tahun 2018. Nilai pembangunan mencapai Rp 8 miliar dan jika total dengan peralatan laboratorium mencapai Rp 40 miliar. "Dari fasilitas ini, juga ditargetkan dihasilkan dua produk dari bahan obat tradisional," jelasnya.

Agus menambahkan, saat ini ada empat kandidat jenis tanaman sebagai antidiabetes dari sukun, jamblang dan cocor bebek. Sedangkan antimalaria dari artemisinin. "Dari penelitian kita telah banyak ditemukan senyawa-senyawa baru dari ekstrak tanaman asli Indonesia yang berpotensi sebagai antikanker, antidiabetes, antimalaria serta antioksidan," ucapnya.

Dalam peletakan batu pertama ini hadir pula Direktur Pengawasan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan Badan Pengawasan Obat dan Makanan Indriaty Tubagus dan Kepala Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Sri Setiawati.



Sumber: Suara Pembaruan