Paceklik, Nelayan Alih Profesi Jadi Pemandu Wisata

Paceklik, Nelayan Alih Profesi Jadi Pemandu Wisata
Ilustrasi nelayan. ( Foto: AFP )
/ YUD Rabu, 14 Maret 2018 | 08:19 WIB

Denpasar - Nelayan di kawasan Pantai Serangan, Denpasar, Bali mengantisipasi merosotnya pendapatan akibat paceklik ikan dengan beralih profesi sebagai pemandu turis untuk menikmati berbagai kegiatan wisata ke tengah laut.

"Dari 3.789 nelayan yang ada di Kelurahan Serangan, ada sekitar 1.000 orang kini masih melaut sekaligus pemandu wisata dan sisanya mencari pekerjaan yang lain," kata Lurah Serangan I Wayan Karma, Rabu (14/3).

Ia menambahkan bahwa nelayan di kawasan Denpasar selatan itu masih ada, namun masuknya dunia pariwisata menyebabkan mereka kadang-kadang beralih profesi sebagai pemandu wisata akibat hasil tangkapan mereka tidak menentu.

Menurut dia, ada tiga kelompok nelayan laut lepas dan lima kelompok nelayan pesisir yang masing-masing berjumlah 50 hingga 100 orang setiap kelompoknya yang sering berprofesi sebagai pemandu wisata.

Seorang nelayan I Nyoman Suita mengatakan, majunya sektor pariwisata di kawasan pesisir tersebut sangat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Dia menjelaskan saat bulan paceklik yakni bulan September hingga Februari para nelayan biasanya tidak menangkap ikan ke laut lepas karena cuaca buruk.

Meski demikian, lanjut dia, para nelayan yang hanya bermodal perahu bermotor itu masih bisa mengantarkan wisatawan untuk menyelam guna melihat biota laut di pesisir pantai.

Jika nelayan menangkap ikan, menurut Suita, mereka mampu menghasilkan Rp 500.000 sampai Rp1,5 juta untuk sekali melaut namun hasil itu belum termasuk biaya-biaya yang dikeluarkan untuk perlengkapan melaut.

Sedangkan kalau menjadi pemandu wisata, Suita menjelaskan, penghasilan yang didapat bisa Rp 500.000 sampai Rp 2,5 juta dalam sehari.

"Rata-rata dalam seminggu kami hanya mengantar tamu tiga sampai empat kali," katanya.

Nelayan lainnya Wayan Suardika juga mengatakan hal senada. Pesatnya bisnis wisata air di kawasan itu juga dapat memberi tambahan penghasilan bagi para nelayan di sekitarnya.

"Kami tetap berprofesi menjadi seorang nelayan, namun kegiatan nelayan yang kami tambah dengan membantu wisatawan menyelam, berwisata ke Nusa Penida, berselancar, dan mengantar wisatawan ke tengah laut untuk memancing," kata Suardika.

Ia mengatakan faktor cuaca yang sering tidak mendukung menyebabkan para nelayan menambah penghasilan dengan menyewakan jasa sebagai pemandu wisata.

"Sebab saat ini ikan juga semakin sedikit, ikan hias banyak tidak laku, cuaca tidak menentu, dan wisata air yang mendukung membuat kami terpaksa harus menambah usaha yang lain untuk bertahan hidup," kata Suardika.

 



Sumber: ANTARA
CLOSE