Kecelakaan Alutsista, TNI Jangan Berlindung dengan Kata “Musibah”

Kecelakaan Alutsista, TNI Jangan Berlindung dengan Kata “Musibah”
Salah seorang kerabat korban menunjukan foto pelajar PAUD yang sedang menaiki Tank milik TNI sebelum tenggelam di Purworejo, Jateng, 10 Maret 2018. Akibat kecelakaan sebuah tank dari Batalyon Infanteri 412 / Bharata Eka Sakti Purworejo yang tenggelam di Sungai Bogowonto, Purworejo,itu mengakibatkan Kepala Sekolah PAUD Ananda dan satu Anggota TNI meninggal dunia. ( Foto: Antara / Andreas Fitri Atmoko )
Asni Ovier / AO Rabu, 14 Maret 2018 | 11:23 WIB

Jakarta - Dalam waktu yang berdekatan terjadi dua kecelakaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Darat. Pekan lalu, 1 unit Tank M113A1BE tenggelam di Sungai Bogowonto Purworedjo. Kemudian, beberapa hari lalu Kapal Komando TNI AD juga tenggelam di Teluk Jakarta atau di kawasan Kepulauan Seribu.

Atas dua peristiwa tersebut, TNI AD janga berlindung di balik kata “musibah”. “Tentu saja saya tidak setuju bila TNI berlindung dengan kata ‘musibah’ atas kecelakaan-kecelakaan alutsista mereka,” ujar pengamat militer dan intelijen Susaningtyas NH Kertopati atau yang akrab disapa Nuning di Jakarta, Rabu (14/3).

Dikatakan, TNI AD dan pihak terkait harus melakukan investigasi yang holistik atas peristiwa-peristiwa tersebut. Penyelidikan meliputi sejumlah indikator, yakni manusia, material, misi, media, dan manajemen. Pengusutan itu penting agar diketahui faktor kecelakaan tersebut, apakah karena masalah human error, kesalahan teknis, dan faktor cuaca. Bahkan, meski kecil kemungkinannya, bisa saja ada sabotase,” kata dia.

Menurut Nuning, jika melihat spesifikasi kapal komando ADRI buatan PT Tesco yang tenggelam di Kepulauan Seribu itu bukan untuk media laut. Kapal itu dirancang untuk beroperasi di kawasan rawa, danau, dan pantai. “Kalau kita mau menggunakan alutsista, kita juga harus tahu untuk apa barang itu digunakan. Lalu, apakah prajurit yang akan mengawakinya betul-betul menuasai alutsista tersebut,” ujar Nuning.

Sementara, Tank M113A1BE, kata dia, bukan jenis tank amfibi. Sehingga, kata dia, seyogyanya tidak digunakan untuk menyeberangi sungai. Apalagi, sungai yang dilalui adalah Sungai Bogowonto , yang pada musim hujan debit air dan arusnya membesar.

“Untuk ini, perlu diwaspadai apakah faktor human error-nya besar? Perlu diketahui juga sejauh mana penguasaan teknis prajurit terhadap alutsista yang mereka awaki. Jika ada kesalahan manusia, maka pelakunya harus dikenakan hukuman sesuai pasal tentang merusak alutsista perang milik negara dengan hukuman kurang lebih 10 tahun penjara,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE