Megawati: Arsip Pidato Bung Karno Layak Jadi Memory of The World

Megawati: Arsip Pidato Bung Karno Layak Jadi Memory of The World
Megawati Soekarnoputri. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / FER Selasa, 17 April 2018 | 18:54 WIB

Jakarta - Indonesia menggalang dukungan dunia untuk memperjuangkan agar arsip pidato Presiden Soekarno di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan arsip Gerakan Non Blok (GNB) bisa ditetapkan sebagai "Memory of The World" tahun 2019.

Penggalangan dukungan ini dilakukan bersamaan dengan pameran arsip Konferensi Asia Afrika (KAA) dan peluncuran buku Pidato 29 Pemimpin Asia Afrika di KAA 1955, di Auditorium Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Selasa (17/4).

Hadir dalam acara ini, Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri, Pelaksana tugas Kepala LIPI Bambang Subiyanto, Wakil Menteri Luar Negeri, para duta besar negara sahabat dan sejumlah politisi.

Sebagai pembicara kunci, Megawati mengatakan, satu abad lalu tepatnya abad 20, ada sejumlah peristiwa penting dalam sejarah peradaban manusia. Peristiwa pertama di abad 20 adalah KAA tahun 1955 di Bandung. Kedua, pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB XV tahun 1960.

"KAA yang diikuti oleh 200 delegasi dari 29 negara menghasilkan sebuah komunike akhir yang sangat bersejarah yaitu Dasa Sila Bandung," katanya.

Hanya 10 tahun setelah KAA berlangsung ada 41 negara yang memproklamirkan kemerdekaannya di Asia dan Afrika. Arsip KAA itu kemudian telah ditetapkan UNESCO menjadi Memory of The World pada 9 Oktober 2015.

"Saatnya kita harus menengok dan mau belajar dari sejarah. Jelas bukan hanya Indonesia, tetapi dunia yang membutuhkan arsip KAA, arsip pidato Bung Karno di PBB dan arsip GNB pertama sebagai ingatan kolektif," paparnya.

Menurutnya, goresan dari tiga tinta emas abad 20 tersebut adalah bekal setiap bangsa untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa depan. Baik saat KAA, pidato di PBB maupun pada GNB pertama, Bung Karno telah mengingatkan bahwa semua warga bangsa saling terkoneksi.

"Dapatkah kita sendiri-sendiri dalam menghadapi persoalan radikalisme, perdagangan narkotika dan manusia yang terjadi lintas negara," ucapnya.

Menurut Megawati, contoh konkret lainnya adalah terkait perubahan iklim dan cuaca yang juga berpengaruh pada perubahan budaya dan cara hidup manusia serta berdampak pada politik ekonomi terutama pangan. "Konsekuensi pemanasan global tidak hanya menyebabkan kerusakan ekonomi tetapi dapat mengancam keberlangsungan hidup manusia," jelasnya.

Megawati meyakini, tidak ada satu pun pemimpin bangsa, terutama yang terlibat dalam KAA dan GNB pertama, menginginkan bangsanya sebagai bangsa yang lupa sejarah. Ingatan kolektif terhadap sejarah adalah kunci untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik.

Megawati mengajak siapapun yang terlibat aktif dalam memberikan dukungan untuk memperjuangkan arsip pidato Bung Karno di PBB dan arsip GNB pertama sebagai Memory of The World yang akan ditetapkan UNESCO tahun 2019.

"Inilah bagian dari tugas sejarah yang harus kita tuntaskan bersama," tandasnya.

Memory of The World adalah salah satu program UNESCO berupa ingatan kolektif dunia yang didorong dari kesadaran akan keadaan pelestarian dan akses terhadap warisan dokumenter di berbagai belahan dunia.

Sampai saat ini, Indonesia berhasil mendapat pengakuan dunia untuk naskah La Galigo, naskah Nagarakretagama, naskah Babad Diponegoro, arsip Konferensi Asia Afrika, arsip restorasi Borobudur, dokumentasi peristiwa tsunami Samudera Hindia, serta naskah cerita Panji.

Arsip restorasi Borobudur diajukan oleh Indonesia sedangkan dokumentasi peristiwa tsunami Laut Hindia diajukan bersama India dan Sri Lanka, sedangkan naskah cerita Panji diajukan sebagai joint nomination dengan Malaysia, Kamboja, Myanmar, Belanda dan Thailand



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE