Ribuan Warga Lebak Tinggal di Daerah Rawan Bencana

Ribuan Warga Lebak Tinggal di Daerah Rawan Bencana
Ilustrasi Banjir Bandang. ( Foto: ANTARA OTO/Anis Efizudin )
/ YUD Selasa, 17 April 2018 | 19:26 WIB

Lebak - Ribuan warga Kabupaten Lebak, Banten tinggal di permukiman daerah rawan bencana alam, seperti banjir, longsor dan gempa bumi serta tsunami.

"Kami minta masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam agar meningkatkan kewaspadaan," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi saat dihubungi di Lebak, Selasa.

Ribuan masyarakat yang berada di pemukiman rawan bencana alam karena mereka tinggal di daerah aliran sungai, perbukitan, pegunungan dan pesisir pantai.

Biasanya, masyarakat yang menghuni di daerah itu kerap kali mengalami bencana banjir, longsor dan gempa tektonik.

Bahkan, gempa berkekuatan 6,1 SR pada Januari 2019 menimbulkan kerusakan 950 rumah warga yang berada di sekitar pantai selatan.

Begitu juga ratusan warga yang terkena banjir akibat luapan sungai setelah dilanda hujan deras,termasuk longsoran tanah.

Apabila, cuaca buruk disertai hujan deras dan angin kencang sangat berpotensi terjadi bencana alam.

"Kami mengingatkan masyarakat, aparat kecamatan dan desa agar waspada terhadap ancaman bencana alam itu," kata Kaprawi.

BPBD mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam tersebut agar meningkatkan kewaspadaan. Selama ini, curah hujan meningkat sehubungan tibanya masa peralihan ataiu pancaroba dari musim hujan ke musim kemarau.

Masa peralihan itu ditandai dengan hujan deras disertai angin kencang dan kilat.

Peluang cuaca buruk hampir setiap siang sampai sore, sehingga berpeluang menimbulkan bencana alam.

"Kami pekan lalu menyalurkan bantuan bahan pokok kepada warga korban banjir di Kecamatan Muncang," katanya pula.

Menurut dia, ribuan kelapa keluarga warga yang tinggal di daerah rawan bencana alam itu, tersebar di Kecamatan Bojongmanik, Sobang, Rangkasbitung, Cimarga, Cibadak, Gunungkencana, Leuwidamar, Bayah, Banjarsari, Cirinten, Malingping, Lebak Gedong, Cilograng, Cijaku, Muncang, Cibeber, dan Wanasalam.

Guna mengurangi resiko bencana alam, BPBD berkoordinasi dengan TNI, Polri, PMI, Dinkes, kecamatan, DPUPR, relawan dan desa untuk mengatasi kebencanaan itu. Pihaknya juga mempersiapkan peralatan evakuasi di posko-posko untuk menolong korban jiwa. Peralatan evakuasi itu, antara lain pakaian pelampung, perahu karet, logistik, obat-obatan, dan tenda serta dapur umum.

Selain itu, juga kendaraan ambulans, dan angkutan operasional roda empat serta sepeda motor.

BPBD setempat siaga selama 24 jam dengan piket bergantian sebanyak 10 orang di Posko Utama, guna melayani masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam. "Kami akan bertindak cepat melakukan evakuasi bila terjadi banjir dan longsor serta angin kencang." katanya.



Sumber: ANTARA