Megawati: 3 Tinta Emas Bung Karno bagi Memory of The World

Megawati: 3 Tinta Emas Bung Karno bagi Memory of The World
Megawati Soekarnoputri. ( Foto: Antara )
Feriawan Hidayat / FER Selasa, 17 April 2018 | 19:38 WIB

Jakarta - Indonesia menggalang dukungan dunia untuk memperjuangkan agar arsip pidato Presiden Soekarno di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan arsip Gerakan Non Blok (GNB) bisa ditetapkan sebagai "Memory of The World" tahun 2019.

Penggalangan dukungan ini dilakukan bersamaan dengan pameran arsip Konferensi Asia Afrika (KAA) dan peluncuran buku Pidato 29 Pemimpin Asia Afrika di KAA 1955, di Auditorium Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Selasa (17/4).

Sebagai pembicara kunci, Megawati mengatakan, satu abad lalu tepatnya abad 20, ada sejumlah peristiwa penting dalam sejarah peradaban manusia. Peristiwa pertama di abad 20 adalah KAA tahun 1955 di Bandung. Kedua, pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB XV tahun 1960.

"KAA yang diikuti oleh 200 delegasi dari 29 negara menghasilkan sebuah komunike akhir yang sangat bersejarah yaitu Dasa Sila Bandung," kata Megawati.

"Saya berusia 8 tahun saat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955, berusia 13 tahun saat Pidato Bung Karno di PBB 1960, berusia 14 tahun saat Gerakan Non-Blok Pertama diadakan di Beograd 1961. Saya adalah delegasi termuda," tambahnya.

Menurut Megawati, hanya 10 tahun setelah KAA berlangsung, ada 41 negara yang memproklamirkan kemerdekaannya di Asia dan Afrika. "Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak dan juga kepada Unesco yang telah menetapkan arsip KAA sebagai Memory of The World pada tanggal 9 Oktober 2015," katanya.

Megawati menambahkan, ketika arsip KAA diakui sebagai Memory of The World oleh Unesco, maka arsip Pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB dan Arsip GNB Pertama, sangat layak pula dijadikan Memory of The World.

"Jelas bukan hanya Indonesia, tetapi dunia, membutuhkan Arsip KAA, Arsip Pidato Bung Karno di PBB dan Arsip GNB Pertama sebagai ingatan kolektif. Goresan dari tiga tinta emas abad 20 tersebut, merupakan bekal setiap bangsa untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa depan," jelasnya.

Megawati menambahkan, ingatan kolektif terhadap sejarah adalah kunci untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik, beradab dan bermartabat. "Sehingga, penting untuk memperjuangkan Arsip Pidato Bung Karno di PBB dan Arsip GNB Pertama sebagai Memory of The World, yang akan ditetapkan Unesco pada tahun 2019," tambahnya.

Sementara itu, Duta Informasi LIPI, Rieke Diah Pitaloka, menambahkan, post-truth adalah iklim sosial politik, di mana emosi mengalahkan obyektivitas dan rasionalitas, serta cenderung menolak verifikasi fakta. "Opini publik digiring sedemikian rupa melalui skenario pembohongan yang direncanakan dengan sistematis," jelasnya.

Menurut Rieke, semua pihak harus belajar dari para tokoh politik KAA. Bagi mereka, lanjutnya, kebenaran harus dapat diverifikasi. "Tidak ada satu orang pun yang dapat menyangkal bahwa Dasa Sila Bandung merupakan suatu kebenaran yang dapat diverifikasi dan telah diakui sebagai Memory of The World oleh Unesco," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com