Mantan Wakapolres Lombok Tengah Dibantarkan ke Rumah Sakit Jiwa

Mantan Wakapolres Lombok Tengah Dibantarkan ke Rumah Sakit Jiwa
Ilustrasi ( Foto: Istimewa )
Arnold H Sianturi / YUD Selasa, 17 April 2018 | 20:14 WIB

Medan - Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) akhirnya membantarkan mantan Wakapolres Lombok Tengah, Kompol Fahrizal, pelaku kasus tembak mati terhadap adik iparnya, Jumingan (33), ke Rumah Sakit Jiwa Medan.

"Kondisi kejiwaannya masih labil, dan kami membantarkannya supaya mendapatkan observasi lebih intens dari para ahli," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumut, Kombes Pol Andi Rian di Medan, Selasa (17/4).

Andi mengatakan, meski Kompol Fahrizal dibantarkan ke rumah sakit jiwa namun tidak serta merta membuat penyidik untuk menghentikan perkara kasus pembunuhan yang dilakukan Fahrizal di rumah orangtuanya Jl Tirtosari Gang Keluarga, Kecamatan Medan Tembung, Rabu (4/4) lalu.

"Kasus pidananya tetap dilanjutkan. Fahrizal akan mendapatkan penanganan kejiwaan lebih intensif. Sampai saat ini, kita belum mendapatkan motif di balik penembakan oleh Fahrizal yang menewaskan adik iparnya itu," katanya.

Kompol Fahrizal masih menjalani observasi selama 14 hari. Tim observasi yang didatangkan dari Mabes Polri guna memeriksa kejiwaan Fahrizal. Polda Sumut juga mendatangkan ahli kejiwaan dari eksternal Polda Sumut.

"Selain memeriksa kejiwaan Fahrizal, tim kita juga melakukan trauma healing ke lokasi kejadian. Ini dilakukan untuk melihat kondisi psikologi mereka setelah mengalami kejadian tersebut. Orangtua Fahrizal dan adik kandung Fahrizal masih syok," katanya.

Menurutnya, metode observasi yang dilakukan itu dengan melihat keadaan Fahrizal saat bertemu dengan orang - orang sekitarnya, khususnya keluarga. Fahrizal sempat dipertemukan dengan istri dan ketiga orang anaknya. Fahrizal langsung memeluk anaknya.

Lulusan terbaik Akademi Kepolisian (Akpol) di tahun 2003 itu juga sempat bersalaman dengan mantan Kasat Narkoba Polrestabes Medan, Kompol Boy Situmorang. Penyidik melakukan ini guna melihat reaksi Fahrizal dalam keadaan normal atau tidak.

Andi Rian mengaku tidak bisa menerima secara logika atas keterangan Fahrizal saat diperiksa penyidik, yang mengaku mendapatkan bisikan saat menembak mati adik iparnya itu. Fahrizal menembak Jumingan sebanyak 3 kali di kepala dan 3 kali di perut.

Bahkan dia terkadang berasa masih bertugas saja ketika sedang menjalani pemeriksaan atas kasus penembakan tersebut. Fahrizal mengaku lelah dan menyampaikan mau pulang dulu karena merasa sangat kelelahan.

"Sudah dulu yaa. Saya kecapekan sekali. Mau pulang dulu," ujar Andi Rian mengulangi perkataan Fahrizal kepada penyidik yang melakukan pemeriksaan. Fahrizal merasa bahwa dirinya masih sedang dalam kondisi bekerja sebagai polisi.

Sampai saat ini, polisi belum bisa mengungkap motif di balik penembakan oleh Wakapolres Lombok Tengah itu terhadap adik iparnya Jumingan di rumah orangtuanya, Wak Kartini (60) di Jl Tirtosari Gang Keluarga, Kecamatan Medan Tembung.

Awalnya, Wakapolres Lombok Tengah yang sudah mengajukan cuti kepada pimpinannya untuk melihat ibunya itu yang baru sembuh dari sakit di Medan. Sebelum masuk ke rumah orangtuanya, Fahrizal seperti biasa dengan ramahnya menyapa tetangga ibunya.

"Kalau cerita yang kami dengar dari acara tahlilan atas tewasnya Jumingan, Henny adik kandung Fahrizal istrinya Jumingan, malam beberapa saat sebelum kejadian, Fahrizal masih memijat Wak Kartini ibu kandungnya tersebut," kata Iwan (45), warga Tirtosari.

Namun, tidak lama kemudian, sambungnya, Henny yang saat itu pergi ke dapur untuk membuatkan teh, mengaku melihat abangnya menodongkan senjata ke arah ibu kandungnya. Saat itu, Jumingan yang melihat kejadian itu meminta abang iparnya agar tidak melakukannya.

"Fahrizal sesuai cerita yang kami dengar dari keluarganya, langsung mengarahkan senjatanya kepada Jumingan. Adik iparnya itu ditembak sebanyak enam kali. Kami memang sempat melihat Jumingan kejang - kejang berlumuran darah sebelum tewas," ujarnya.

Fahrizal merupakan lulusan terbaik Akademi Polisi pada 2003. Pelaku terkenal tenang dan ramah. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasat Reskrim) di Asahan, Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu, dan Wakil Kasat Reskrim Polrestabes Medan.

Fafrizal memiliki banyak prestasi dalam mengungkap berbagai kasus kejahatan kelas kakap. Ada puluhan kasus pembunuhan berencana yang berhasil diungkapnya. Beberapa kasus pembunuhan berencana yang menghebohkan itu adalah penembakan pengusaha penjual senjata air softgun.

Fahrizal juga berhasil mengungkap kasus pembantaian satu keluarga dengan cara membakar rumah korbannya di kawasan Pancurbatu, Kabupaten Deli Serdang. Pembunuh bayaran sengaja membakar korban hidup - hidup, sehingga menimbulkan kesan tewas akibat peristiwa kebakaran.

Dengan prestasi yang gemilang itu, berbagai kalangan banyak yang tidak menyangka Fahrizal menghabisi nyawa adik iparnya itu dengan cara kejam. Fahrizal dianggap mempunyai alasan sehingga tidak dapat lagi menahan emosinya yang begitu besar.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE