Kemdes Ajak Masyarakat Daerah Tertinggal Garap Pasar Digital

Kemdes Ajak Masyarakat Daerah Tertinggal Garap Pasar Digital
Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Samsul Widodo (tengah) didampingi oleh Bupati Pandeglang Irna Narulita, (ketiga dari kanan) dan Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Kemdes Prijono (paling kiri) saat pembukaan workshop calon pengelola BUMDes Kabupaten Pandeglang dan Lebak di Pandeglang, Banten, Selasa (17/4). ( Foto: Istimewa / Asni Ovier )
Asni Ovier / AO Selasa, 17 April 2018 | 21:43 WIB

Pandeglang - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemdes) mengajak masyarakat di daerah tertinggal untuk menggarap pasar digital dalam menjual produk-produk mereka. Langkah ini ditempuh karena potensi pasar digital di Indonesia sangat besar dan sangat mudah diakses oleh warga di daerah tertinggal.

Hal itu dikatakan Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Samsul Widodo saat membuka workshop calon pengelola BUMDes Kabupaten Pandeglang dan Lebak di Pandeglang, Banten, Selasa (17/4). Acara workshop ini sendiri merupakan kerja sama Kemdes dengan XL Axiata, Blanja.com, dan Fatayat NU.

Samsul Widodo mengatakan, potensi produk unggulan di daerah tertinggal sesungguhnya cukup besar, seperti potensi pertanian, perikanan, perkebunan, dan pariwisata. Namun, hingga saat ini masih terkendala masalah pemasaran produk agar dapat diterima dengan baik oleh pasar. Karena itu, tuturnya, diperlukan sebuah terobosan agar produk unggulan di perdesaan tersebut bisa dibawa ke pasar nasional bahkan internasional.

Dikatakan, percepatan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat di daerah tertinggal tidak dapat dilakukan dengan cara biasa. Untuk itu, diperlukan sebuah terobosan melalui implementasi teknologi dan inovasi, termasuk untuk membuka jaringan pemasaran di daerah teringgal.

Dalam konteks itulah, ujarnya, Kemdes menggandeng XL Axiata dan blanja.com untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat di daerah tertinggal agar bisa memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini dalam memasarkan produk mereka melalui jaringan online dengan memanfaatkan market place e-commerce.

Samsul menjelaskan, saat ini sebanyak 143,26 juta jiwa, atau 54,68 % dari 262 juta penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Pada Januari 2018, jumlah pengguna Facebook di Indonesia mencapai 130 juta akun sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara pengguna Facebook terbesar keempat di dunia. Sebesar 97 % di antaranya merupakan pengguna Facebook yang aktif melalui smartphone.

Artinya, Indonesia merupakan “Pasar Besar” untuk menjadi sasaran pemasaran hasil produk unggulan daerah secara online, termasuk produk unggulan di daerah tertinggal. Karena itu, melalui pengembangan digital ekonomi, masyarakat di daerah tertinggal dapat langsung berjualan secara online. Hal ini akan membuka jaringan antara desa-desa di daerah tertinggal dengan kota-kota pusat pertumbuhan melalui teknologi informasi.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Kemdes Drs Prijono Msc mengharapkan melalui pelatihan ini diharapkan para calon pengelola BUMDes bisa menularkan ilmu yang diperoleh kepada warga desa lainnya sehingga mereka juga mampu memanfaatkan pasar digital dalam memasarkan produk mereka.

Ia berharap pelatihan yang diberikan ini akan mampu mengubah pola pemasaran masyarakat perdesaan, terutama di daerah tertinggal untuk langsung berhubungan langsung dengan konsumen mereka yang ada di perkotaan. Dengan demikian, ekonomi masyarakat di daerah tertinggal juga akan bertumbuh lebih cepat lagi dibanding menggunakan jalur pemasaran tradisional.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE