Hikmah Isra Mikraj sebagai Semangat Memperkuat NKRI

Hikmah Isra Mikraj sebagai Semangat Memperkuat NKRI
KH Ahmad Satori Ismail ( Foto: istimewa )
Bernadus Wijayaka / BW Selasa, 17 April 2018 | 22:46 WIB

Jakarta – Isra Mikraj adalah peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dalam Isra Mikraj itulah, Nabi Muhammad SAW pertama kali mendapat perintah melaksanakan salat lima waktu dari Allah SWT.

“Isra Mikraj adalah suatu mukjizat untuk memberikan solusi ketika umat Islam dalam kondisi hidup yang sulit, ditindas, dan banyak hal berat yang dihadapi, maka sebenarnya Isra Mikraj itu solusi. Apa solusinya? Ketika Rasulullah di Isra Mikraj-kan, beliau diberi tugas bahwa untuk menyelesaikan masalah adalah hubungan erat dengan Allah, yaitu dengan melaksanakan salat. Sebab hubungan dengan Allah yang erat akan menghasilkan berbagai macam solusi,” jelas Ketua Ikatan Da’i Indonesia (Ikadi) KH Ahmad Satori Ismail, di Jakarta, Selasa (17/4).

Oleh sebab itu, lanjut Kiai Ahmad Satori, diperintahkan kepada umat Islam untuk kembali dan meminta ke Allah SWT dalam setiap salat lima waktu. Karena dalam salat itu, umat Islam minimal 17 kali membaca iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in yang artinya hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami meminta. Dan itu sudah dipraktikkan Nabi Muhammad dalam banyak hal.

Ahmad Satori mengungkapkan, dalam suatu hadits menyebutkan, Rasulullah SAW kalau menghadapi problematika besar maka dia langsung kembali pada Allah SWT dengan melakukan salat. Begitu juga bila ada suatu bangsa yang menghadapi banyak masalah, seharusnya bangsa itu bukan malah ribut atau bahkan perang, tetapi harus kembali ke Allah untuk meminta solusinya.

Selain mukjizat perintah salat kepada Rasulullah SAW, kata pimpinan Pondok Pesantren Modern Al Hassan Jatikramat Bekasi ini, banyak pelajaran dan hikmah lain yang bisa dipetik bangsa Indonesia dari peristiwa Isra Mikraj. Pertama, kalau bangsa ini ingin aman tenteram, damai, harus benar-benar taat ajaran agama masing-masing, karena setiap agama itu menyuruh kebaikan, tidak yang menyuruh untuk membunuh orang lain.

Oleh sebab itu, umat Islam yang mayoritas di Indonesia, harus aktif ke masjid, aktif salat jamaah, maka di situ akan terbentuk pribadi yang indah dan damai. Sebab dalam salat itu, jamaah akan menuruti imam, juga banyak berdzikir mengingat Allah sehingga mereka betul-betul mendapat keberkahan hidup. Dengan meramaikan tempat ibadah, maka pribadi umat manusia pasti akan menjadi santun, damai, dan bermartabat. Sebaliknya, orang yang tidak pernah meramaikan tempat ibadah itu dinilai sebagai pribadi jahat.

“Untuk umat Islam, kalau rajin ke masjid dan beribadah, dia akan mendapatkan ilham dari Allah SWT, mendapatkan keindahan dalam hati, ketenangan jiwa, dan keberkahan dalam hidup,” tutur Kiai Ahmad Satori.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga mengingatkan kepada bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, untuk selalu waspada dengan ancaman perpecahan, radikalisme, terorisme, yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia ingin agar hikmah Isra Mikraj sebagai semangat memperkuat NKRI.

Ia menggarisbawahi kondisi di Timur Tengah yang masih dicekam dengan peperangan. Menurutnya perang di Timur Tengah itu terjadi karena skenario-skenario politik dari negera-negara lain.

Ia mengajak seluruh bangsa untuk bersatu menggaungkan persatuan dan perdamaian untuk mengusir berbagai skenario dan intervensi asing yang mungkin ditujukan untuk menghancurkan NKRI. Bangsa Indonesia memiliki empat pilar kebangsaan yang perlu dipegang teguh yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, serta NKRI.

“Negeri ini jangan sampai dipermainkan oleh mereka. Kita harus menjadi orang yang taqwa, jangan sampai ada kesempatan mereka merusak negara kita. Kita harus mengokohkan persatuan, ukhuwah kita, baik itu ukhuwah Islamiyah, wathoniyah, insaniyah, harus dikuatkan,” tegas Ahmad.

Apalagi, lanjutnya, Indonesia tengah disibukkan dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Ia mengajak seluruh anak bangsa untuk tidak larut dalam eforia politik dengan melaksakan Pilkada dan Pilpres dengan indah dan damai. Menurutnya, Allah SWT sudah menentukan siapa yang akan naik, dan siapa yang tidak.

“Itu sudah menjadi takdir Allah SWT. Mari kita laksanakan kewajiban kita sebagai warga negara dengan baik. Jangan gara-gara Pilkada dan Pilres karena berbeda pilihan, kita jadi terpecah. Kita ini satu bangsa, satu tanah air, satu bangsa, tentunya harus menjaga keutuhan NKRI ini,” pungkasnya.



Sumber: Suara Pembaruan