Tommy Soeharto
Permohonan Soeharto untuk gelar pahlawan. FOTO:  ANTARA
Pasca Soeharto, bisa disebut tak ada generasi berikutnya yang maju di pentas politik, meski kemungkinan masih "bekerja di balik layar".

Oktober 2009, Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar berlangsung panas. Protes berdatangan dari para peserta terkait salah satu calon ketua umum partai yang maju saat itu, Hutomo "Tommy" Mandala Putra, putra bungsu Soeharto. Mayoritas berpikir Tommy tak seharusnya diberi izin maju sebagai calon.

Partai Golkar sangat menghormati Soeharto sebagai orang yang membesarkan partai itu. Namun di sisi lain, AD/ART partai itu menetapkan seorang calon ketua umum haruslah berprestasi, berdedikasi, memiliki loyalitas, dan tidak tercela. Itulah masalahnya Tommy, karena pernah mendekam di penjara Nusa Kambangan sebagai terpidana otak pembunuhan hakim MA Syaifuddin Kartasasmita pada 2001.

Akibat tak ada penyelesaian, beberapa pimpinan sidang Munas itu, termasuk Fadel Muhammad, lalu menemui Jusuf Kalla, yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

"Dia (Tommy) kan sudah menjalani hukumannya di penjara akibat kesalahannya itu. Apakah kalian akan menghukum dia lagi secara politik? Terserah kalian sekarang, mau menerima dia karena dia sudah menjalani hukumannya di penjara, atau menghukum dia lagi secara politik," kata Jusuf Kalla kepada rombongan pimpinan Sidang Munas saat itu.

Kisah itu diungkapkan oleh seseorang dari internal Partai Golkar yang mengikuti langsung pertemuan itu. Jawaban Kalla itu pun dibawa oleh Fadel dan kawan-kawan ke ruang sidang, dan akhirnya semuanya tunduk dan memutuskan Tommy boleh maju. Walau Tommy akhirnya kalah, bagi keluarga Soeharto, cerita di Golkar itu sungguh menggugah hati mereka.

"Saya dengar, demi mengucapkan terima kasihnya kepada Jusuf Kalla, dua putri Pak Harto harus datang menemui Kalla di luar negeri," kata sumber yang menolak disebutkan namanya itu.

Percobaan "Abadi"?
Walau begitu, maaf di Golkar bukan berarti keluarga Soeharto sudah mendapatkan kembali tempat di hati mayoritas masyarakat Indonesia, khususnya di bidang politik. Keluarga itu sudah mencoba beberapa kali untuk kembali berperan di dunia politik.

Tercatat, putri tertua Siti Hardiyanti 'Tutut', beberapa kali mencobanya. Di masa ayahnya berkuasa, dia sempat duduk di Golkar, bahkan pernah menduduki jabatan menteri. Pasca reformasi 1998, dia pernah berkarier di Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) bersama purnawirawan jenderal yang dekat dengannya, R Hartono. Partai itu sempat mendudukkan beberapa anggotanya di DPR. Namun, bersamaan dengan dilaksanakannya model threshold di pemilu dan DPR, nama PKPB pun tak pernah menjadi sebuah fraksi di DPR.

Putri Soeharto lainnya, Siti Hedidiati alias Titik, mencoba peruntungannya di Golkar. Bersama Tommy, namanya sempat disebut-sebut maju sebagai calon ketua umum partai. Namun akhirnya langkah itu tak jadi dilaksanakan. Kini dia tercatat sebagai Pengurus DPP Partai Golkar dan duduk sebagai Wasekjen.

Sigit Harjodudanto, Bambang Trihatmodjo dan Mamiek Soeharto, adalah tiga anak Soeharto yang kelihatannya tak pernah berniat bersentuhan dengan politik. Namun sebagai selebritis, kehidupan mereka tetap disorot.

Perhatian Sigit mungkin harus habis memperhatikan anaknya, Ari, yang kerap menjadi sorotan. Terakhir, dua cucunya dari Ari harus dibui karena kasus narkoba. Ari sendiri sedang ditarget pihak kepolisian dalam kasus dugaan penipuan.

Sementara Bambang Trihatmodjo diingat publik karena kasus perceraiannya dengan Halimah, dan pernikahannya yang menyedot perhatian dengan mantan artis, Mayangsari. Akan halnya Mamiek Soeharto, memang merupakan yang paling jarang mendapat sorotan.

Terakhir, harapan tinggal bersandar pada Tommy, yang sebenarnya sudah beberapa kali mencoba memasuki pentas politik nasional. Setelah gagal di Golkar, Tommy nyatanya tak ada di kepengurusan Ketua Umum Aburizal Bakrie.

Sejumlah kabar sempat mencuat bahwa Tommy akan membuat partai baru, dan muncullah Partai Nasional Republik (Nasrep) yang mengklaim mendapat dukungan penuh dari Tommy. Partai itu pun mengaku berniat mengusung Tommy sebagai capres di 2014. Keinginan yang nampaknya sulit dilaksanakan, mengingat partai ini sudah kesulitan hanya untuk memenuhi syarat pendirian parpol.

Belakangan, Tommy diisukan akan masuk ke dalam Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), yang dibesut mantan Panglima ABRI Wiranto. Sumber yang menolak disebutkan namanya mengatakan kemungkinan itu muncul karena kedekatan Tommy dengan Yuddy Chrisnandi, seorang petinggi Hanura yang dulu bersama Tommy mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Golkar.

Sekretaris Fraksi Partai Hanura di DPR, Saleh Husin, ketika ditanyai kebenaran informasi itu, menjawab bahwa Hanura sangat terbuka buat siapa saja. "Kalau memang Beliau (Tommy) mau gabung dengan Hanura, maka itu sangat baik," kata Saleh di Jakarta, Jumat (18/5).

Ketika ditanya apakah sudah ada kontak awal antara Hanura dan Tommy, Saleh menjawab secara diplomatis bahwa komunikasi politik adalah wajar dan harus dilakukan. "Komunikasi dengan siapa saja terus kita bangun," ucapnya.

Bermain di Balik Layar
Menurut pengamat politik dari Charta Politika, Arya Fernandez, trah politik Soeharto memang tidak banyak tampil di bagian 'depan' panggung politik Indonesia, namun banyak berperan di 'panggung belakang'. Buktinya, secara elektoral menurutnya, prestasi trah politik anak-anak Soeharto tidak begitu mengembirakan.

"Tutut misalnya, gagal membesarkan PKPB. Prestasi Tommy juga tidak begitu mengembirakan, kalah dalam perebutan Ketum Golkar di Munas lalu," kata Arya.

Dia menilai, kenyataan itu membuat keluarga Soeharto takkan pernah benar-benar berpolitik secara serius demi kekuasaan, namun akan banyak bergerak di belakang layar dan lebih fokus mengurusi bisnis keluarga. Menurutnya, keluarga Soeharto akan memilih untuk menempatkan 'orang-orangnya', yang memberi perlindungan politik kepada mereka, di posisi-posisi strategis di partai yang ada.

"Yang paling jelas tentunya keberadaan Titiek di Partai Golkar. Saya yakin ada juga orang mereka di partai lainnya," kata Arya.

Menurut Arya, hal itu disebabkan karena keluarga Soeharto memiliki kesulitan mendasar untuk bisa bercokol di kancah perpolitikan Indonesia. Salah satu alasan kesulitan itu adalah adanya stigmatisasi politik yang luar biasa dan kontra terhadap kepentingan trah keluarga Soeharto. Stigma buruk itu semakin mengencang terutama pasca reformasi 1998.

Alasan lainnya adalah karena kekuatan politik keluarga itu sejak awal hanya terpusat berada di tangan Soeharto seorang. Tak satupun anggota keluarga itu yang memiliki karakter dan menguasai jaringan politik sekuat Soeharto. Dengan lain kata, trah politik soeharto tidak berlanjut secara sukses, karena tak ada regenerasi yang kuat, yang mampu menguasai medan politik seperti dahulu dilakukan Soeharto.

"Makanya, salah satu cara untuk bisa survive di politik Indonesia, bagi trah Cendana, adalah merawat jaringan lama dan membuat jaringan baru. Artinya, banyak berada di belakang layar," kata Arya menambahkan.

Kaderisasi Soeharto yang gagal di bidang politik, nyatanya tak terjadi di bidang bisnis. Menurut Arya, sejak dulu hingga kini, pusat konsentrasi trah itu ketika Soeharto berkuasa pun banyak bergerak di dunia bisnis. Itu sebabnya, kroni Soeharto yang bertahan dan berkuasa di saat ini paling banyak di dunia bisnis, bukan di dunia politik.

"Jaringan bisnis masih terpelihara dengan baik," tegas Arya pula.

Penulis: