Erupsi Merapi, Ganjar Koordinasi dengan BPBD

Erupsi Merapi, Ganjar Koordinasi dengan BPBD
Gunung Merapi mengeluarkan asap putih saat terjadi letusan freatik di Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, 11 Mei 2018. ( Foto: Antara / Aloysius Jarot Nugroho )
Stefi Thenu / YUD Jumat, 11 Mei 2018 | 16:42 WIB

Sragen - Meski sedang nonaktif karena cuti kampanye pilkada, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tetap memantau dan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng terkait situasi terkini Gunung Merapi. Ganjar meminta BPBD di sekitar Merapi untuk siaga dan melakukan tindakan awal penanggulangan bencana.

"Saya sempat komunikasi ke BPBD dan Sekda (Jateng), kami minta harus siaga penuh. Agar kalau terjadi hal tidak kita inginkan, warga sudah aman. Kita yang di Jateng standby, mudah-mudahan arah angin ke atas saja," katanya usai kunjungan di Pondok Pesantren Abdul Jalal, Kalioso, Kali Jambe, Kabupaten Sragen, Jumat (11/5) pagi.

Ia juga mendapat informasi bahwa sejumlah warga sudah dievakuasi. Ganjar berharap situasi tidak memburuk. "Warga radius 5 kilometer sudah di evakuasi tapi itu yang di Sleman ya, kita yang di Jateng sudah standby mudah-mudahan arah angin ke atas sehingga tidak menyebar kemana mana," katanya.

Ganjar meminta para pendaki yang masih ada di sekitar Merapi khususnya Pasar Bubrah segera dijemput. Biasanya, kata Ganjar, para pendaki sudah mendapat briefing dari pos pendakian sehingga tahu harus segera turun bila mengetahui kondisi gunung mendadak berbahaya.

"Apalagi kalau dia (pendaki) berada di Pasar Bubrah, ini kan kondisinya berarti ke arah selatan timur ya, ke arah Yogya. Semoga bisa segera turun ke arah Selo," imbuhnya.

Mengantisipasi situasi ke depan, politisi PDIP itu meyakini BPBD sudah siap. Persiapan penanggulangan bencana khususnya di Jateng telah memiliki system yang saling berkaitan antardaerah.

"Kita siapkan masyarakat terdekat satu tempat evakuasinya, dua early warning system-nya, yang tiga manajemen logistiknya. Tentu yang paling penting adalah memberikan kesadaran masyarakat terhadap mitigasi atau early sehingga kalau terjadi kegempaan seperti ini harus lari kemana, wedus gembel dan seterusnya," paparnya.

Khusus warga di sekitar Merapi dan Magelang telah memiliki system sister family. Yakni keluarga di zona aman yang menjadi lokasi jujugan ketika terjadi situasi buruk.

"Kalau di merapi atau di magelang mereka punya sister family jadi keluarga kembar kalau terjadi apa-apa mereka akan lari ke keluarha itu, dia sudah tahu bahwa mitranya keluarga si A dengan B, C dengan D. Tinggal latihannya yang terus menerus sehingga bisa cepat," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE