Tangani Teror, Presiden Restui Pembentukan Koopssusgab

Tangani Teror, Presiden Restui Pembentukan Koopssusgab
Presiden Joko Widodo didampingi Menko Polhukam, Wiranto, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjajanto, Kepala BIN, Budi Gunawan dan Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, Din Syamsudddin memberi keterangan saat meninjau lokasi ledakan di Gereja Pantekosta, Surabaya, 13 Mei 2018. ( Foto: AFP / Rusman )
Carlos KY Paath / YUD Rabu, 16 Mei 2018 | 19:05 WIB

Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) merestui pengaktifan Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab). Koopsusgab nantinya akan menopang Polri dalam memberantas aksi terorisme.

“Komando Operasi Khusus Gabungan TNI sudah direstui oleh Pak Presiden. Diresmikan kembali oleh Panglima TNI (Marsekal Hadi Tjahjanto),” kata Kepala Staf Presiden, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (16/5).

Koopsusgab dibentuk ketika Moeldoko menjadi panglima TNI pada Juni 2015. Namun, Koopsusgab dibekukan. Untuk diketahui, Koopsusgab terdiri atas gabungan anggota TNI dari seluruh satuan elite matra darat, laut dan udara.

Dijelaskan Moeldoko, Koopsusgab dikomandoi panglima TNI. Meski begitu, koordinasi dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian tetap dilakukan. “Teknisnya seperti apa, nanti mengenai itu akan dikomunikasikan antara Kapolri dengan Panglima TNI,” jelasnya.

Dia belum mengetahui persis kemungkinan adanya batas waktu operasi dari Koopsusgab. Diharapkan, Koopsusgab dapat bekerja tanpa tenggat waktu. Sebab, situasi keamanan yang penuh dinamika dinilai membutuhkan Koopsusgab.

Dia optimistis jajaran aparat keamanan sanggup menciptakan suasana kondusif. “Serahkan kepada aparat keamanan. Kami siap untuk menghadapi situasi apapun. Masyarakat enggak perlu resah, enggak perlu takut,” tegasnya.

Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati (Nuning) menilai bahwa Koopsusgab sangat tepat dihidupkan kembali. “Sudah tepat, sesuai amanat UU Pertahanan Negara dan UU TNI,” kata Nuning.

Dalam sepekan terakhir, sejumlah daerah di Indonesia mengalami serangan bom oleh para teroris.

Serangan teroris awalnya terjadi pada 8 Mei 2018 yaitu terjadi kerusuhan antara narapidana terorisme dengan anggota Densus 88 di rumah tahanan Mako Brimob,Depok, Jabar menjelang tengah malam. Akibat kerusuhan itu, lima orang polisi meninggal, satu orang polisi disanderan, dan satu orang napi teroris tewas.

Ada 155 orang napi teroris yang merebut senjata petugas dan mengambil alih rutan hingga akhirnya mereka menyerah pada 10 Mei 2018 dan seluruhnya dipindahkan ke lapas Nusa Kambangan.

Selanjutnya pada 13 Mei 2018, kota Surabaya diguncang serangan bom bunuh diri. Bom pertama meledak di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno pada waktu 07.00 - 08.00 WIB.

Hingga saat ini korban tewas mencapai 14 orang, sudah termasuk para pelaku diduga berjumlah enam orang yang merupakan satu keluarga, sedangkan korban luka-luka tercatat mencapai 41 orang.

Selang 14 jam kemudian, ledakan bom terjadi di Blok B Lantai 5 Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Ledakan itu merenggut tiga nyawa yang merupakan satu keluarga terduga teroris yang akan melakukan serangan bom. Polda Jatim dan tim Gegana menemukan tiga bom aktif, dan sejumlah bahan baku pembuat bom dalam jumlah banyak.

Pada 14 Mei 2018 juga terjadi bom diri di pintu masuk Markas Polrestabes Surabaya yang mengakibatkan pelaku tewas dan menyebabkan masyarakat dan polisi yang ada di sekitar ledakan juga terluka.

Selanjutnya pada hari Rabu 16 Mei 2018 terduga teroris menyerang Mapolda Riau. Ada seorang polisi yang meninggal, Sedangkan empat orang terduga teroris ada empat ditembak hingga tewas.



Sumber: Suara Pembaruan