Ramadan, Dai Harus Ceramah tentang Bahaya Radikalisme

Ramadan, Dai Harus Ceramah tentang Bahaya Radikalisme
Ilustrasi ( Foto: Istimewa )
Bernadus Wijayaka / BW Rabu, 16 Mei 2018 | 21:49 WIB

Jakarta- Para dai diharapkan bisa memberikan ceramah tentang bahaya radikalisme dan terorisme yang dilakukan orang-orang fasik (jahat) selama Ramadan.

Dengan segala kemuliaannya, pada Ramadan ini, orang akan berpikir lebih jernih, sabar, dan bisa menahan diri dalam menyikapi dinamika yang terjadi.

“Kita selalu menyambut datangnya bulan suci Ramadan setahun sekali dengan Marhaban yang Ramadan. Bulan di mana kita diwajibkan bisa menahan diri dari segala macam yang membatalkan puasa, utamanya bicara ngelantur, hoax, dan menjelekkan orang. Dan satu lagi, menahan diri untuk melakukan tindakan terorisme yang mengatasnamakan agama,” papar mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) KH Asad Said Ali di Jakarta, Rabu (16/5).

Masyarakat juga harus terus diberikan pemahaman tentang budaya cek dan ricek. “Tidak boleh menelan informasi apa adanya. Harus dikonfirmasi dan dipikir apakah sisinya sesuai dengan ajaran agama atau sebaliknya ingin menghancurkan agama,” terang pria jebolan Universitas Gadjah Mada ini.

Intinya, tegas Asad, masyarakat harus pintar memilih dan memilah berita. Pasalnya kelompok radikal sering menggunakan media, apakah media konvensional maupun media sosial untuk menyebarkan hoax yang bertujuan untuk mengadu domba sehingga terjadi keributan dan keresahan dalam masyarakat.

Sehubungan dengan teror bom di Surabaya, mantan Wakil Ketua Umum PBNU menilai, apa yang terjadi Kota Pahlawan dan sekitarnya menjelang bulan Ramadan, sengaja dilakukan oleh kelompok radikal untuk mengganggu kedamaian dan kekhusyuan umat Muslim menyambut datangnya bulan suci.

“Pada bulan puasa saatnya kita merenungkan dan mawas diri, bagaimana bisa melaksanakan ibadah dengan khusyuk. Yang sudah lalu ditinggalkan saja. Kita kembali ke jalan yang benar. Beragamalah dengan ilmu karena agama tidak lepas dari ilmu, jangan sampai kita menganut ilmu yang salah seperti bom bunuh diri itu,” tutur Asad.



Sumber: PR
CLOSE