Ramadan Harus Dimaknai sebagai Bulan Toleransi Keimanan

Ramadan Harus Dimaknai sebagai Bulan Toleransi Keimanan
Umat muslim menunaikan ibadah salat Tarawih pertama di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, 26 Mei 2017. Salat tarawih pertama bulan Ramadhan 1438 Hijriyah itu diikuti oleh ribuan umat. Antara/Andreas Fitri Atmoko
Maria Fatima Bona / FER Rabu, 16 Mei 2018 | 23:10 WIB

 Jakarta - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid Sa'adi, mengatakan bulan puasa atau Ramadan, harus dimaknai sebagai bulan yang penuh dengan rahmat atau kasih sayang.

"Berpuasa bukan hanya sekedar menahan diri dari makan, minum, dan semua hal yang dapat membatalkannya. Puasa juga dapat melatih kepekaan terhadap kesulitan orang lain, melatih empati kepada orang yang belum beruntung, dan keberpihakan kita kepada orang yang teraniaya," kata Zainut, dalam siaran pers yang diterima Rabu (16/5).

Menurut Zainut, pihaknya ingin mengajak kepada seluruh umat Islam, agar memasuki bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan dalam suasana hati yang sejuk, tenang dan damai serta mengembangkan sikap toleransi dalam menjalankan ajaran agama.

"Hal itu bertujuan agar tidak terjebak pada sikap egoisme kelompok yang dapat melahirkan pertentangan dan perselisihan termasuk perbedaan paham keagamaan, serta menghindari perbuatan yang sia-sia dan bisa mendatangkan kemudharatan bagi diri sendiri atau orang lain," tambahnya.

Zainut menambahkan, puasa dapat membentuk pribadi yang menghargai nilai-nilai kemanusian. Selain itu, berpuasa dapat menjauhkan diri dari perbuatan aniaya, teror, dan bentuk kerusakan lainnya.

"Implementasi nilai-nilai Islam tentang perdamaian, kasih sayang, dan keadilan, akan lebih mudah ketika seseorang sedang melaksanakan ibadah puasa," ujarnya.

Zainut menambahkan, pihaknya mengharapkan nilai Islam tersebut, akan terus tertanam dalam kehidupan sehari-hari.

"Jadi, sesungguhnya tujuan berpuasa itu adalah membentuk seorang muslim yang memiliki kesalehan pribadi dan kesalehan sosial, yang dapat menyeimbangkan hubungan vertikal kepada Allah dan hubungan horizontal dengan manusia," pungkasnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE