Ungkap Kasus Skimming, Polda Metro Dapat Penghargaan

Ungkap Kasus Skimming, Polda Metro Dapat Penghargaan
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono (tengah) bersama Dirkrimum Kombes Nico Afinta (kiri), menunjukan barang bukti dan sejumlah tersangka saat rilis pengungkapan tindak pidana pencurian data elektronik (skimming) dan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh WNA di Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta, 3 April 2018. ( Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao )
Bayu Marhaenjati / JAS Kamis, 17 Mei 2018 | 13:46 WIB

Jakarta - Kerja keras Tim Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, dalam mengungkap kasus pencurian dana nasabah atau kejahatan skimming internasional mendapatkan apresiasi berupa penghargaan "Law Enforcement Award" dalam acara AP Visa Risk Security Summit 2018, di Singapura, Rabu (16/5) kemarin.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Nico Afinta mengatakan, penghargaan itu diberikan atas keberhasilan Subdit III Reserse Mobil Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, dalam mengungkap 11 kasus skiming, di wilayah hukum Polda Metro Jaya, beberapa waktu lalu.

"Subdit III Resmob Polda Metro Jaya telah mengungkap kasus skimming sebanyak 11 kasus, dengan total tersangka 18 orang," ujar Nico, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/5).

Dikatakan, selain menangkap 18 orang (warga negara asing dan warga negara Indonesia), penyidik juga menyita sebanyak 2.025 kartu ATM palsu berisi data nasabah 77 bank yang berasal berasal dari 24 negara.

"Para pelaku hanya memerlukan waktu 5 sampai 10 menit dalam melakukan aksinya untuk memasang alat skimming ke dalam mesin ATM," ungkapnya.

Ia menyampaikan, para pelaku memasang alat skimmer di tempat atau lubang kartu ATM. Pelaku juga menempelkan kamera tersembunyi atau spycam di mesin ATM untuk mengetahui nomor PIN calon korban.

Nico menambahkan, alat skimmer itu akan memindai data nasabah, kemudian disimpan ke hard disk. Lalu, pelaku akan memasukkan data itu ke komputer untuk proses pemindahan data ke kartu ATM. Selanjutnya, pelaku dapat menguras saldo korban menggunakan PIN yang terekam di spycam.

Ia mengimbau, kepada para nasabah agar selalu waspada dengan modus kejahatan skimming. Apabila masyarakat menemukan mesin ATM yang tidak wajar, semisal susah memasukkan kartu, sebaiknya langsung mencari mesin ATM alternatif.

Diharapkan, masyarakat juga melaporkan kepada petugas atau sekuriti setempat apabila melihat ada orang yang mencurigakan dan berlama-lama di ATM. "Peran masyarakat sangat penting. Jika menemukan ada orang yang lama di ATM laporkan ke petugas, karena transaksi di ATM biasanya tidak lebih dari lima menit," katanya.

Sementara itu, Nico mengungkapkan, AP Visa Risk Security Summit 2018 merupakan forum pertemuan yang dihadiri oleh 600 industri pembayaran se-Asia Pasific. "Membahas mengenai manajemen risiko pada sistem pembayaran. Bagaimana menanganinya, koordinasi lintas bank, kebijakan-kebijakannya, sistem untuk mengendalikan kejahatan pada sistem pembayaran, dan membangun network yang berhubungan pada sistem pembayaran," jelasnya.

Penghargaan "Law Enforcement Award" diberikan atas dasar Surat Undangan Visa Internasional dan Surat Asosiasi Kartu Kredit Indonesia Nomor: AKKI/2018/IV/104, kepada Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Nico Afinta, Kasubdit Resmob Polda Metro Jaya AKBP Aris Supriyono, Kanit 4 Subdit Resmob Polda Metro Jaya AKP Rovan Richard Mahenu dan Panit 2 Unit 4 Subdit Resmob Polda Metro Jaya Iptu Verdika Bagus Prasetya.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE