Pengembangan Museum di Indonesia Terganjal Pendanaan

Pengembangan Museum di Indonesia Terganjal Pendanaan
Pengunjung melihat keanekaragaman hayati asli Indonesia yang berada di Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain) LIPI di Jalan Ir H Djuanda, Kota Bogor. ( Foto: Beritasatu Photo / Vento Saudale )
Vento Saudale / JAS Kamis, 17 Mei 2018 | 14:05 WIB

Bogor – Sebagian besar museum di Indonesia tidak terkelola dengan baik. Hal tersebut yang membuat museum-museum tidak terkenal dan sangat jarang dikunjungi wisatawan.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, museum di Indonesia saat ini berjumlah 450. Dari jumlah tersebut, sebagian besar atau 80 persen dimiliki dan dikelola pemerintah daerah, selebihnya dimiliki perorangan atau lembaga negara.

“Namun dari 80 persen itu, kurang pengelolaan. Sebagian besar pemda masih enggan menyisihkan dana yang cukup untuk pengelolaan museum,” Direktur Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harry Widianto, Rabu (16/5). Keberadaan museum-museum di daerah-daerah itu, baru diartikan sebagai penciri daerah, bukan sebagai rujukan objek wisata.

Keberadaan kementerian hanya sebagai pembina, menciptakan regulasi, dan memberikan bantuan salah satunya untuk revitalisasi. Kata dia, dorongan untuk bisa mandiri harus ditingkatkan agar keberlangsungan kehidupan museum bisa berjalan lama.

“Dalam pembangunan museum kini pemerintah menetapkan harus memenuhi empat persyaratan. Di antaranya koleksi, gedung, sumber daya manusia atau kurator, dan pendanaan,” paparnya.

Harry pun mengapreasiasi keberadaan Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain) LIPI yang mengotimalkan pembiayaan mandiri sehingga penyelesaian revitalisasi bagunan tidak berlarut-larut. Ke depan, LIPI sebagai pengelola harus bisa mengaktualisasi museumnya untuk menarik pengunjung. Penampilan dan situasi menjadi poin penting dalam menarik perhatian pengunjung.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati menuturkan, proses revitalisasi selama hampir dua tahun diakui hanya menyelesaikan satu dari lima lantai yang ada di museum tersebut.

"Dengan pendanaan yang minim, bantuan dari berbagai pihak, hasilnya bagus. Terutama, chemistry-nya bertemu antara ide-ide peneliti, nyambung dengan konsultan. Jadi, bisa memvisualisasikan," katanya.

Ia pun memastikan, perjalanan LIPI dalam mengembangkan Munasain masih panjang. Proses revitalisasi terpaksa dilakukan secara bertahap dari lantai per lantai. Enny turut mengapresiasi bantuan dana dari pihak swasta untuk revitalisasi tahap selanjutnya di lantai 2 gedung Munasain.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE