PBNU: Internet Jadi Tempat Penyebaran Paham Radikal

PBNU: Internet Jadi Tempat Penyebaran Paham Radikal
Ilustrasi Internet ( Foto: history.com )
Yustinus Paat / YUD Kamis, 17 Mei 2018 | 15:56 WIB

Jakarta - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Muhammad Sulton Fatoni menilai internet dan media sosial sekarang sudah menjadi tempat favorit untuk menyebarkan ajaran dan paham radikal. Bahkan, kata Fatoni, beberapa kelompok radikal menjadikan media sosial dan internet sebagai mentor memahami agama.

"Jadi, sekarang memang internet dan media sosial menjadi tempat efektif bagi kaum radikal dan teroris untuk belajar. Mereka belajar secara instan, harafiah dan tidak ada pembanding dan refleksi mendalam," ujar Fatoni di Jakarta, Kamis (17/5).

Dia justru melihat bahwa masjid dan musala tidak menjadi tempat yang efektif lagi untuk menyebarkan virus radikalisme dan terorisme. Kalaupun ada, kata dia, jumlahnya sangat kecil dan bisa terpantau.

"Jika ada yang menyebarkan melalui masjid dan musala pasti jumlah kecil dan bisa terpantau untuk diambil tindakan-tindakan yang perlu. Yang sulit terpantau adalah penyaluran dan penyebaran melalui internet dan media sosial," tutur dia.

NU, kata dia, telah mengajak para anggotanya untuk bijak menggunakan media sosial dan internet. Mereka diminta selektif dan tidak instan dalam memahami ajaran agama, apalagi yang disebarkan melalui media sosial dan internet.

"Kita juga terus melakukan sosialisasi tentang paham ke-Islam-an menurut NU dan ke-Indonesia-an. Mengantisipasi berbagai ajaran radikal dengan menerbitkan buku-buku tentang paham Islam yang damai dan baik untuk dijadikan bahan bacaan bagi pendidik dan siswa atau mahasiswa di sekolah dan kampus," ungkap dia.

Lebih lanjut, Fatoni mengatakan melawan radikalisme dan terorisme tidak bisa dilakukan satu kelompok saja. Menurut dia, semua pihak dan kelompok harus bergandengan tangan dan bersinergi menumpas radikalisme dan terorisme.

"Misalnya, bagaimana kerja sama tokoh-tokoh agama atau ormas-ormas keagamaan bersama pemerintah melakukan gerakan literasi digital dan spiritual agar umat bisa mendapat pemahaman yang baik dan benar tentang ajaran agama. Jadi, pendekatan tidak saja represif, tetapi juga persuasif dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat," pungkas dia.



Sumber: BeritaSatu.com