Mantan Teroris: Rusuh Mako Brimob Jadi Pemicu Bom Surabaya

Mantan Teroris: Rusuh Mako Brimob Jadi Pemicu Bom Surabaya
Petugas memadamkan api yang membakar sejumlah sepeda sesaat setelah terjadi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, 13 Mei 2018. Ledakan terjadi di tiga lokasi di Surabaya, yakni di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), dan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, pada waktu yang hampir bersamaan. ( Foto: Antara / Andy Pinaria )
Deti Mega Purnamasari / YUD Kamis, 17 Mei 2018 | 16:12 WIB

Jakarta - Mantan Kepala Instruktur Perakitan Bom Jamaah Islamiyah (JI) Jawa Timur, Ali Fauzi Manzi menyebutkan jika serangan terorisme yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur dipicu dari peristiwa kerusuhan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (10/5) lalu.

"Kerusuhan Mako Brimob jadi trigger serangan (di Surabaya) yang tidak di-mapping, tidak di-setting, sifatnya dadakan dengan dalih daf'us shoo'ill atau jihad untuk membela kehormatan," ujar Ali dalam diskusi bertajuk 'Memutus Mata Rantai Terorisme, Mungkinkah?' yang diselenggarakan LIPI, Kamis (17/5).

Ia mengatakan, isu yang menyebar di kalangan narapidana teroris (napiter) di Mako Brimob Kelapa Dua tersebut bukan soal makanan, tetapi isu adanya perempuan atau akhwat salah satu keluarga mereka yang saat diperiksa untuk memasuki lokasi hingga ditelanjangi.

"Tapi saya pikir itu tidak betul. Bahasa yang muncul di kalangan mereka adalah disekap. Ini kemudian membuat napiter yang ada di dalam emosi dan tidak bisa dibendung lagi," katanya.

Peracik bom yang pernah diledakkan di Hotel J.W. Marriot, Jakarta ini mengatakan, Surabaya yang merupakan kota metropolis kedua setelah Jakarta dinilai para teroris tersebut bisa menjadi miftahus shirok (pemantik konflik) untuk wilayah lainnya.

Harapan mereka, katanya, apabila sudah terjadi konflik di Surabaya maka akan memberi dampak lain untuk kota-kota lain di Indonesia. Hal ini berhasil dilakukan dengan peristiwa yang terjadi di Sidoarjo dan Pekanbaru, Riau.

Surabaya juga dikenal menjadi tempat reproduksi para calon teroris. Sebab para pelaku dari bom Bali 2, J.W. Marriot 1 dan 2 serta Kedutaan Besar Australia, banyak melibatkan warga Surabaya. Ditambah lagi, katanya, sejak tahun 2000 hingga 2018 Surabaya tidak pernah tersentuh.

"Surabaya dikenal sebagai persaingan gengsi antar pengusung kelompok jihad. Ada JI, JAD, JAS, JAT serta tersedianya bahan-bahan bom yang murah. Paling mahal Rp 20.000 per 1 kilogram," katanya.

Di Surabaya, katanya, banyak toko-toko kimia yang menjual bahan-bahan membuat bom tersebut secara legal. Bahkan dari temuan polisi, katanya, bom yang meledak di Surabaya berbeda dengan bom-bom sebelumnya, tetapi ada kesamaan dengan bom yang pernah meledak di Kampung Melayu, Jakarta Timur tahun 2017 lalu, yakni jenis TATP. Termasuk juga tersedianya sunber daya manusia yang mampu meracik dan merakit banyak berada di Surabaya.

"Para pelaku (bom Surabaya) siap mati syahid, paham area tanpa observasi lapangan. Karena untuk planning, mapping (jika diledakkan) di Jakarta butuh waktu, sementara ini adalah respons tindak balas di Mako Brimob. Yang dipikirkan, yang penting meledak," pungkasnya.



Sumber: Suara Pembaruan