Tradisi Tabuh Bedug Sambut Ramadan di Keraton Cirebon

Tradisi Tabuh Bedug Sambut Ramadan di Keraton Cirebon
Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Keraton Kasepuhan Cirebon menggelar tradisi tabuh bedug. Suara bedug ditabuh terdengar dari halaman kompleks Keraton usai Salat Asar, Rabu (16/5). ( Foto: Beritasatu Tv )
Aichi Halik / AHL Kamis, 17 Mei 2018 | 20:56 WIB

Cirebon - Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Keraton Kasepuhan Cirebon menggelar tradisi tabuh bedug. Suara bedug ditabuh terdengar dari halaman kompleks Keraton usai Salat Asar, Rabu (16/5).

Tradisi menabuh bedug sebagai tanda penyambut bulan ramadan itu bernama Dlugdag. Tradisi ini sudah ratusan tahun dilakukan oleh keluarga Keraton Kasepuhan Cirebon.

Sultan Kasepuhan Cirebon PRA Arief Natadiningrat menjadi orang pertama yang menabuh bedug, yakni sebuah bedug tua yang bernama Samogiri peninggalan Sunan Gunung Djati.

"Bedug ini dulu dipakai para Wali Songo untuk menandakan pertama adalah datangnya waktu sholat lima waktu, yang kedua setiap malam takbiran sebagai penanda datangnya Idul Fitri dan Idul Adha," kata PRA Arief Natadiningrat di Keraton Kasepuhan Cirebon, Rabu (16/5).

Setelah Arief menabuh bedug Samogiri, keluarga keraton lainnya secara bergiliran ikut menabuh bedug.

Irama dan tempo setiap orang dalam menabuh bedug itu juga berbeda-beda.

Mereka terus menabuh bedug peninggalan Sunan Gunung Djati tersebut selama hampir satu jam.

Selain sore hari, tradisi itu juga dilakukan pada dinihari di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

"Tujuannya untuk memberi tahu masyarakat bahwa waktu sudah menunjukkan dinihari," kata Arief.



Sumber: BeritaSatu TV