Djarot: Sumut Istimewa buat Bung Karno

Djarot: Sumut Istimewa buat Bung Karno
Bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus dalam Pilkada Sumatra Utara, berfoto bersama di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (7/1). ( Foto: SP/Joanito De Saojoao. / SP/Joanito De Saojoao. )
Markus Junianto Sihaloho / CAH Rabu, 6 Juni 2018 | 13:46 WIB

Jakarta - Sumatera Utara (Sumut) adalah provinsi istimewa buat Soekarno. Selain dibentuk oleh Presiden Soekarno, Sumut adalah provinsi yang mempunyai ikatan erat dengan sang proklamator, khususnya pada masa revolusi kemerdekaan.

Hal itu disampaikan Calon Gubernur Sumatera Utara, Djarot Saiful Hidayat, mengenang Hari Lahir Bung Karno ke-117 yang jatuh hari ini, Rabu (6/6).

Politikus PDI Perjuangan ini mengenang, Provinsi Sumut dibentuk pada era Presiden Soekarno lewat UU Nomor 10 Tahun 1948 yang terbit pada 15 April 1948. Sebelumnya, Sumut masuk Provinsi Sumatera bersama Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan.

“Pembentukan Provinsi Sumut yang hanya 3 tahun pascakemerdekaan membuktikan Bung Karno memberi perhatian khusus bagi pembangunan di Sumut,” ujar Djarot.

Oleh karenanya, kata Djarot, mimpi Bung Karno agar Sumut maju harus terus diwujudkan oleh semua anak bangsa. Mimpi Bung Karno itu juga yang membuat hatinya tergerak untuk ikut memberi sumbangsih untuk Sumut, kata Djarot yang dua periode memimpin Kota Blitar, tempat Bung Karno dimakamkan.

Selain dibentuk oleh Bung Karno, Sumut juga menjadi provinsi tempat pembuangan sang presiden pertama saat masa revolusi kemerdekaan. Sejarah mencatat Bung Karno pernah dibuang Belanda ke Berastagi, Kabupaten Karo, pada Desember 1948 atau masih pada tahun yang sama terbentuknya Provinsi Sumut.

“Bayangkan saja, baru dibentuk April 1948, Provinsi Sumut langsung jadi tempat pembuangan Bung Karno delapan bulan selanjutnya,” kata Djarot.

“Jadi bisa dibayangkan bagaimana kuatnya ikatan emosional Bung Karno dengan Sumut,” imbuhnya.

Setelah di Berastagi, kenang Djarot, pengasingan Bung Karno lanjut ke Parapat, Kabupaten Simalungun, pada awal 1949. Rumah bergaya arsitektur Eropa di tepi Danau Toba menjadi saksi Bung Besar di saat-saat sepinya.

“Dari yang saya baca, Bung Karno sering menghabiskan waktu untuk sekadar memandang ke Danau Toba. Jadi sangat mungkin buku-buku hebat Bung Karno juga hasil permenungan beliau di Danau Toba,” ujar Djarot.



Sumber: Suara Pembaruan