Dua Aspek yang Patut Dicermati dari Pertemuan Trump-Kim

Dua Aspek yang Patut Dicermati dari Pertemuan Trump-Kim
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un (kanan) berjalan bersama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri) menyapa media di sela pertemuan bersejarah keduanya di halaman Hotel Capella, Singapura, 12 Juni 2018. ( Foto: AFP / Anthony Wallace )
Asni Ovier / AO Rabu, 13 Juni 2018 | 23:50 WIB

Jakarta - Pertemuan antara pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Singapura dapat dicermati dari dua aspek, yakni substansi dan bukan substansi. Dari aspek substansi tampak kedua belah pihak menginginkan deskalasi konflik. Keinginan tersebut terwujud pada rumusan empat butir kesepakatan.

“Kita semua patut bersyukur kedua pemimpin menghendaki hubungan bilateral yang lebih baik. Keduanya juga sepakat membangun berbagai upaya perdamaian yang lebih konkret. Bahkan, Korea Utara juga mau menjalankan semua ketentuan internasional untuk denuklirisasi sebagai bentuk nyata memperoleh kepercayaan dunia internasional,” ujar pengamat intelijen dan pertahanan Susaningtyas NH Kertopati atau yang akrab disapa Nuning di Jakarta, Rabu (13/6).

Dikatakan, kesepakatan tersebut dapat berujung pada upaya perdamaian yang lebih serius antara Korut dan Korea Selatan (Korsel). Tidak menutup kemungkinan kedua Korea akan segera menandatangani deklarasi damai mengakhiri status gencatan senjata dan nantinya berujung reunifikasi kedua negara.

“Dari aspek nonsubstansi, Indonesia patut menyambut baik pertemuan Kim dan Trump sebagai peluang untuk meningkatkan peran sebagai juru damai. Peran Singapura sebagai negara mediator pertemuan kedua pemimpin tersebut dapat mendorong Indonesia sebagai juru damai konflik di Afganistan, sebagaimana telah dimulai oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu yang lalu,” katanya.

Dikatakan, mengundang semua pihak yang bertikai di Afganistan, termasuk negara-negara tetangga, merupakan agenda politik luar negeri yang dapat lebih sistematis. Bahkan, ujar Nuning, Indonesia selain menjadi juru damai konflik Palestina-Israel, juga dapat berperan sebagai juru damai konflik di Laut China Selatan.



Sumber: BeritaSatu.com