Terduga Teroris di Yogya Sel Tidur

Terduga Teroris di Yogya Sel Tidur
Polisi melakukan penjagaan saat penangkapan terduga teroris di Jl. Kaliurang, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta, 14 Juli 2018. ( Foto: Antara / Andreas Fitri Atmoko )
Fuska Sani Evani / YUD Senin, 16 Juli 2018 | 09:17 WIB

Yogyakarta - Terduga teroris yang diamankan di wilayah DI Yogyakarta disinyalir merupakan sel–sel tidur jihadis. Selain telah terputus dengan sel di atasnya, ideologi kelompok-kelompok tersebut tetap melekat dan setiap saat mampu bergerak secara sporadis.

Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM, Muhammad Najib Azca memaparkan, pergerakan kelompok jihadis teroris di Yogyakarta bukan merupakan hal baru, namun bagian dari suatu proses pergerakan yang sudah lama dan tergolong agak panjang. Karenanya, Kepolisian diharap memaksimalkan fungsi intelejennya agar mencegah sel-sel tersebut berkembang di tengah-tengah masyarakat.

“Selama ini, kelompok itu vakum, hanya melihat situasi dan tidak saling berhubungan. Tetapi ideologi mereka tetap tertanam dan menunggu starter,” ujar Najib, Minggu (15/7).

Bahkan tiga terduga teroris yang ditembak mati oleh Densus 88, Sabtu (14/7) di Jalan Kaliurang Km.9,5 Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, adalah bagian dari jaringan lama yang hanya berganti nama.

Jumlah kelompok gerakan jihadis teroris memang tidak banyak, bahkan dapat dikatakan kecil dibandingkan gerakan-gerakan lain. Meski begitu, lanjut Najib Azca kelompok tersebut merupakan menganut pergerakan yang jihad bercorak kekerasan.

“Kelompon ini menghalalkan kekerasan dan memandang alat negara adalah sasaran dalam pemerintahan thogut,yang demi menegakkan ideologi mereka,” katanya.

Bahkan kelompok tersebut memiliki pemahaman bahwa apa yang dilakukannya sebagai pembalasan terhadap perang global seperti di Irak.

Diakui Azca, belum bisa diketahui ke mana afiliasi kelompok-kelompok tersebut, apakah ke ISIS ataupun ideologi global lainnya. Namun tujuan mereka tetap ingin mengganti ideologi NKRI menjadi ideologi khalifah Islamiyah

"Memang data belum lengkap dan afiliasinya kemana, apa ke ISIS atau termasuk gerakan di Surabaya sebelumnya belum tahu persis," ucapnya.

Untuk itu, ujarnya, kepolisian juga harus menjabarkan selugas-lugasnya kepada masyarakat, dan mendefinisikan jaringan jihadis teroris tersebut.

Diketahui, penangkapan tiga terduga teroris di Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman Sabtu kemarin, diwarnai dengan aksi penyanderaan yang dilakukan salah satu terduga teroris terhadap Sulis Khusnul Qotimah (35), warga Gondangan, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman.

Akibat dari penyanderaan tersebut, pelaku berhasil dilumpuhkan dengan timah panas. Terduga teroris itu mendapatkan truk dari hasil membajak satu unit truk yang berada di seberang bengkel.

Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yuliyanto memaparkan, dalam penangkapan ini dua orang anggota polisi terluka akibat sabetan senjata tajam.

Terduga teroris sempat melakukan perlawanan dengan menyerang petugas saat akan diamankan. Sehingga petugas terpaksa mengambil tindakan tegas.

"Yang bersangkutan melakukan perlawanan, hingga mengakibatkan dua anggota terluka," ungkapnya.

Dua anggota terluka bukan karena senjata api, namun akibat sebutan senjata tajam dari terduga teroris saat akan ditangkap. "Dibacok, terluka dibagian tangan dan bagian pinggang," katanya.

Sementara, satu dari empat orang terduga teroris yang terlibat baku tembak dengan Densus 88 meloloskan diri dan masih dalam pengejaran petugas.

Dikatakan, penyergapan tersebut, merupakan hasil pengembangan dari penangkapan lima terduga jaringan teroris yang ditangkap di Bedingin Wetan, Sumberadi, Mlati, dan Kabupaten Bantul pada Rabu (11/7).

Yulianto mengatakan, usai kejadian, petugas mengamankan satu senjata api laras pendek dan lima senjata tajam milik terduga teroris.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE