Tak Dapat Tiket Pilpres, Rizal Ramli Tetap Berjuang untuk Rakyat Kecil

Tak Dapat Tiket Pilpres, Rizal Ramli Tetap Berjuang untuk Rakyat Kecil
Aktivis Pergerakan Kedaulatan Rakyat, Tri Wibowo Santoso (kiri) bersama ekonom Rizal Ramli. ( Foto: Istimewa / Asni Ovier )
Asni Ovier / AO Jumat, 10 Agustus 2018 | 18:22 WIB

Jakarta - Meski tak berhasil mendapatkan tiket pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, ekonom senior Rizal Ramli tetap komitmen dan konsisten untuk terus berkontribusi dalam membangun bangsa.

“Saya melihat Pak Rizal Ramli memiliki keteguhan terhadap cita-cita untuk Indonesia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih sejahtera. Dia selalu mengingatkan bahwa kita tidak boleh berhenti untuk berjuang bagi bangsa,” ujar aktivis Pergerakan Kedaulatan Rakyat, Tri Wibowo Santoso di Jakarta, Jumat (10/10).

Pria yang karib disapa Bowo itu mengatakan, sejak mahasiswa, Rizal Ramli sudah melakukan aksi nyata dalam memperjuangkan nasib rakyat kecil. Salah satunya melalui Gerakan Antikebodohan (GAK) pada era 1977-1978. Ketika itu, Rizal Ramli bersama kawan-kawannya sukses memperjuangkan program wajib belajar 6 tahun.

“Sewaktu masih menjadi mahasiswa, RR sudah berjuang membela rakyat kecil yang tidak mampu mengenyam bangku sekolah, karena biaya pendidikan yang begitu mahal. Melalui GAK, pemerintah Orde Baru saat itu luluh dan semua masyarakat bisa mengenyam pendidikan secara gratis,” kata Bowo.

Lalu, ujarnya, saat menjadi pejabat di era pemerintahan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ada setumpuk persoalan yang secara cepat diselesaikan oleh RR. Misalnya, sebut Bowo, pertumbuhan ekonomi dari –3%, menjadi 4,5% kurang dari dua tahun.

“Ketika didapuk menjadi Menko Perekonomian pada era Gus Dur, sebenarnya kesialan bagi RR, karena ekonomi saat itu karut marut. Tetapi, karena pemikirannya out of the box, pertumbuhan ekonomi dari minus tiga persen jadi 4,5%,” tuturnya.

Begitu juga saat Rizal Ramli menjadi Menko Maritim di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Daya kritisnya tidak tumpul. Pendiri lembaga think thank Econit itu tetap mengritisi beberapa kebijakan yang berpotensi merugikan keuangan negara.

“Misalnya, pembelian pesawat udara berbadan besar A350 untuk maskapai Garuda Indonesia, megaproyek listrik 35.000 megawatt, dan Blok Masela. “Kalau tidak ada kepretan RR saat itu, kita bisa bayangkan berapa triliun rupiah keuangan negara yang terbuang sia-sia,” kata Bowo. Melihat rekam jejaknya di luar maupun di dalam pemerintahan, Bowo berpendapat, Rizal Ramli tetap konsisten memperjuangkan demokrasi dan keadilan.



Sumber: BeritaSatu.com