Organisasi Pemuda Katolik Harus “Berbuah” bagi Masyarakat

Organisasi Pemuda Katolik Harus “Berbuah” bagi Masyarakat
Alumnus Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LVI Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Y Kurniawan Jati (baju merah) berfoto bersama Ketua Pemuda Katolik Komda Lampung Marcus Budi S (tengah), dan Alumnus Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI Lemhannas AM Putut Prabantoro (berbaju hitam) di sela-sela pertemuan Pemuda Katolik Komda Lampung di Bandar Lampung, Sabtu, 11 Agustus 2018. ( Foto: Istimewa / Asni Ovier )
Asni Ovier / AO Senin, 13 Agustus 2018 | 06:45 WIB

Bandar Lampung - Organisasi Pemuda Katolik diharapkan terus bertumbuh dan sekaligus berakar pada masyarakat, yang pada akhirnya harus berbuah bagi masyarakat yang didasarkan pada kearifan lokal. Oleh karena itu, ada empat prinsip yang harus dipegang agar Pemuda Katolik menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas) yang berbuah bagi masyarakat dan bermartabat karena berintegritas.

Keempat hal itu adalah konsistensi dalam cara berpikir, berkerja, berelasi, dan dalam perubahan perilaku menuju kesempurnaan. Untuk berbuah bagi masyarakat, Pemuda Katolik harus memegang teguh dan bahkan menjadi garda terdepan empat konsensus dasar nasional, yakni Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945.

Empat konsensus dasar itu merupakan hasil pemikiran para pendiri bangsa yang disarikan dari nilai-nilai luhur bangsa. Tetapi, sebagai ormas, Pemuda Katolik tidak dapat berjalan sendiri melainkan harus bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk, pemuka agama, TNI, Polri, pelaku usaha, ormas lain, dan pengambil keputusan.

Demikian kesimpulan dari dua pertemuan para kader Pemuda Katolik dari Komisariat Daerah (Komda) Provinsi Lampung dengan narasumber alumnus Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LVI Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Rm Y Kurniawan Jati dan alumnus Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI Lemhannas AM Putut Prabantoro di Hotel Arinas, Bandar Lampung, Sabtu (11/8).

Menurut Kurniawan Jati, seluruh ormas Katolik, termasuk Pemuda Katolik, harus memperjuangkan kepentingan rakyat. Ada dua perjuangan yang harus dilakukan oleh Pemuda Katolik untuk menegaskan bahwa kaum muda adalah generasi perubah, yakni perjuangan membangun martabat manusia dan perjuangan mewujudkan keadilan sosial.

“Perjuangan pembangunan martabat manusia meliputi upaya terpenuhinya hak dasar, antikorupsi, dan menjadikan bumi sebagai rumah bersama. Bumi adalah ibu kehidupan seluruh manusia tanpa membedakan agama, suku, maupun ras. Maka, setiap warga negara harus menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama. Perjuangan kedua adalah mewujudkan keadilan sosial, termasuk di dalamnya ikut mewujudkan kesejahteraan umum, membela kaum tertindak, yang kecil, lemah, miskin, perempuan, anak-anak, dan mereka yang terbaikan,” ujar Kurniawan.

Untuk mampu berjuang, ujarnya, tidak mudah karena setiap anggota organisasi harus memiliki cara berpikir yang terbuka, inklusif, inovatif, dan transformatif. Cara berpikir yang sempit, tertutup, dan bersikap “menang sendiri” hanya akan membuat dan menjadikan orang lain kerdil dan bodoh. Dia mengingatkan, kemajuan teknologi informasi, terutama media sosial, membuat sikap seperti itu mendapat tantangan dari pihak lain yang memiliki cara berpikir berbeda.

“Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi konsensus, karena para pendiri bangsa serta negara pada waktu itu memiliki cara berpikir yang terbuka, tidak sempit, dan tidak ingin menang sendiri. Sudah semestinya para generasi penerus juga membuka diri atas perubahan yang terjadi dengan tetap berpijak pada empat konsensus dasar nasional tersebut,” ujar dia.

Sementara, AM Putut Prabantoro dalam diskusi terbatas yang dipimpin Ketua Pemuda Katolik Komda Lampung, Marcus Budi S, menegaskan, Pemuda Katolik harus belajar sejarah agar semangat ketika organisasi itu didirikan akan tetap menyala. Organisasi yang didirikan 15 November 1945 itu harus terus menggelorakan semangat juang untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan didirikannya negara Indonesia.

“Untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan negara Indonesia, Pemuda Katolik tidak bisa berdiri sendiri. Kalian harus bekerja sama dengan semua pihak. Tidak penting apakah kelak akan menjadi orang penting atau pejabat, tetapi yang harus dipahami kalian berkarya bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk mewujudkan cita-cita dan mencapai tujuan didirikannya negara Indonesia ini,” ujar Putut, yang juga Ketua Presidium bidang Komunikasi Politik Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) itu.

Dia juga mengingatkan, Indonesia membutuhkan orang yang memiliki integritas, yang tidak asal berbicara dan asal berdebat. Indonesia membutuhkan pemikir yang memiliki rasionalitas dalam berbicara agar tidak menimbulkan berita-berita bohong. Oleh karena itu, sebagai organisasi, Pemuda Katolik harus memperkuat bidang penilitan dan pengembangan (litbang) dan menguasai kemajuan teknologi informasi.

“Biasakan berbicara dengan menggunakan data yang benar. Data salah, cara menganalisanya benar, hasilnya tetap salah. Data benar, cara menganalisasnya salah, hasilnya masih salah. Yang benar adalah data yang digunakan valid dan benar, cara pengambilan analisanya juga benar. Hasil dari kajian tersebut bisa diserahkan kepada pemerintah sebagai sumbangsih,” ujar Putut.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE