Lapas Mewah, Hukuman Penjara Tidak Mampu Ubah Mental Koruptor

Lapas Mewah, Hukuman Penjara Tidak Mampu Ubah Mental Koruptor
Lapas Sukamiskin, Bandung. ( Foto: Antara )
Yeremia Sukoyo / WBP Minggu, 16 September 2018 | 20:26 WIB

Jakarta - Sistem pemidanaan hukuman penjara bagi narapidana kasus korupsi tidak akan mampu untuk mengubah mental koruptor. Apalagi, jika lembaga pemasyarakatan (lapas) masih diisi oknum bermental korup.

"Selama di dalam (penjara), tidak akan bisa mengubah mental para koruptor. Apalagi selama oknum pertugas lapas mentalnya juga perlu dicuci dulu," kata aktivis 1998, Hariman Siregar menyingkapi masih adanya napi koruptor yang mendapat perlakuan khusus di Lapas, di Jakarta, Minggu (16/9).

Dikatakan, petugas lapas biasanya paling senang dan nyaman bila ada narapidana tindak pidana korupsi yang masuk penjara. Sebaliknya, tidak terlalu suka pada napi pidana umum seperti pencurian, kekerasan, pembunuhan dan lain sebagainya.

Pemberian fasilitas mewah dari oknum lapas kepada napi korupsi merupakan masalah klasik yang sudah menjadi rahasia umum. Beruntung saat ini banyak lembaga yang menyadari kondisi ini dan secara berkala melakukan inspeksi mendadak (sidak).

Menurutnya, kondisi ini juga sangat dipengaruhi oleh mental para oknum birokrasi di lapas yang dianggapnya tidak mendukung upaya efek jera para napi korupsi. Karena itu, pihak yang bertanggung jawab atas permasalahan yang terjadi di Lapas Sukamiskin, salah satunya adalah Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laolly.

Baru-baru ini terungkap adanya sel mewah yang dihuni mantan Ketua DPR Setyo Novanto setelah inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Ombudsman RI. Saat melakukan sidak, Ombudsman memergoki M Nazaruddin tengah berada di kamar Setya Novanto. Mantan Ketua DPR RI dan eks Bendahara Partai Demokrat itu bahkan mengobrol berdua di dalam kamar.

Sebelumnya KPK bahkan sempat melakukan OTT di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Dalam OTT, KPK telah menemukan bukti adanya sel narapidana dengan fasilitas setara hotel di Lapas Sukamiskin.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE