Desakan Pencopotan Kapolri Dinilai Bermotif Politik

Desakan Pencopotan Kapolri Dinilai Bermotif Politik
Massa simpatisan Amien Rais, telah berkumpul dan menggelar aksi di depan Mapolda Metro Jaya, Rabu 10 Oktober 2018. ( Foto: Beritasatu.com / Bayu Marhaenjati )
Yustinus Paat / WM Kamis, 11 Oktober 2018 | 21:26 WIB

 

Jakarta - Pengamat Politik Maksimus Ramses Lalongkoe menduga desakan Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) dan sejumlah pihak agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengganti Kapolri Jenderal Tito Karnavian bermuatan politik.

Dugaan bermotif politik itu terjadi mengingat pihak-pihak yang mendesak Presiden Jokowi menggantikan Kapolri Tito sedang berurusan dengan hukum sehingga tidak tidak terpisahkan dari desakan tersebut.

"Saya menduga desakan Amien Rais dan pihak-pihak lainnya itu bermotif politik, apalagi desakan itukan terjadi saat mereka sedang berurusan dengan hukum sehingga tidak dapat dipisahkan," kata Ramses, di Jakarta, Kamis (11/10).

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia ini, desakan pencopotan itu juga bagian dari gertakan ke aparat kepolisian agar ada ruang kompromi dalam penyelesaian suatu kasus hukum meskipun hal itu tidak akan terjadi sebab tuduhan ke Kapolri Tito Karnavian tersebut belum terbukti.

"Desakan itu bagian dari gertak ke polisi sehingga ada ruang kompromi padahal hal itu kan sulit terjadi apalagi yang dituduhkan ke pak Kaplri itu belum terbukti," ujar Ramses.

Untuk itu, ia menyarankan kepada pihak-pihak yang mendesak Kapolri dicopot agar tidak menggunakan cara-cara primitif dalam menghadapi persoalan hukum sebab bangsa Indonesia merupakan negara hukum.

"Upaya ini juga sebagai cara untuk menjatuhkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan juga bisa diduga sebagai bagian dari konspirasi," katanya.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE