Jenazah Pendaki Asal Bandung Diterbangkan dari Timika ke Jakarta Siang Ini

Jenazah Pendaki Asal Bandung Diterbangkan dari Timika ke Jakarta Siang Ini
Andika Pratama ( Foto: istimewa )
Robert Isidorus / JEM Minggu, 4 November 2018 | 13:48 WIB

Jayapura – Jenazah Andika Pratama, pendaki gunung asal Bandung, yang meninggal dunia diduga akibat kejatuhan batu saat mendaki puncak Cartenz Pyramide, sudah disemayamkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika, Kabupaten Timika, Papua, Minggu (4/11). Direncanakan, jenazah Andika diterbangkan dari Timika ke Jakarta dengan pesawat Garuda siang ini untuk diserahkan pada keluarganya.

Kabid Humas Polda Papua Kombes AM Kamal mengatakan, korban diduga tertimpa reruntuhan batu saat sedang melakukan pendakian di Gunung Cartenz Pyramide, salah satu gunung tertinggi di daerah Timika. Jenaza korban baru berhasil dievakuasi petugas dengan menggunakan pesawat helikopter, Minggu pagi.

Kronologis kejadian, kata Kamal, pada Sabtu (3/11), sekitar pukul 13.26 WIT, diperoleh informasi seorang pendaki lokal Andika Pratama, meninggal dunia diduga akibat kejatuhan batu saat mendaki puncak Cartenz Pyramide.

Informasi disampaikan Sofyan Ariefasa, ketua tim para pendaki yang ada di Timika, setelah menerima informasi melalui telepon satelit dari rekan-rekan pendaki lainnya yang ada di base campe sekitar Cartenz Pyramide. Mendapatkan kabar tersebut tersebut, Sofyan selanjutnya melaporkan ke kepolisian setempat.

Setelah mendapat laporan, kata Kamal, aparat kepolisian langsung turun melakukan evakuasi dengan helikopter carteran yang stand by di Bandara Moses Kilangin, Timika.

"Namun evakuasi Sabtu siang, terkendala cuaca buruk sehingga helikopter kembali ke Bandara Timika Moses Kilangin. Evakuasi baru dilanjutkan Minggu (4/11) mulai pukul 05.30 WIT," kata Kamal, Minggu.

Selanjutnya, sekitar pukul 06.43 WIT, jenazah Andika Pratama berhasil dievakuasi dan langsung dibawa ke RSUD Mimika dan disemayamkan di rumah sakit itu. Sejumlah rekan korban saat ini ikut menjaga jenazah Andika.

Kamal menjelaskan, dari keterangan rekan almarhum bernama Yosua Noya yang pada saat kejadian ada di sekitar lokasi, menyebutkan kejadian yang menimpa korban antara pukul 10.30 hingga 11.30 WIT.

Saat itu, titik pertama pemasangan tali pendakian. Dalam setiap pendakian biasanya para pendaki melakukan aklimatisasi, dan memang lokasi tersebut dikenal sebagai daerah rawan runtuhan atau longsoran batu.

Saat kejadian, posisi korban sedang turun gunung dan pada saat itu Yosua sedang dalam perjalanan naik. Namun karena mendengar teriakan minta tolong dari Arlen (satu tim dengan korban) kemudian Yosua langsung menuju lokasi dan selanjutnya bersama Arlend dan tamu Scoot Haluk (warga negar asing) langsung membawa korban yang sudah tidak sadar ke Lembah Kuning.

Kamal menjelaskan, pada saat Yosua bertanya kepada ke Arlend tentang kejadian tersebut, Arlen menyatakan bahwa dia dan korban pada saat itu sedang aklimatisasi. Namun tiba-tiba ada batu yang jatuh dari atas dan langsung mengenai wajah korban.

Sementara Sofyan Ariefasa yang dikonfirmasi terpisah mengatakan, rekan mereka Andika mengalami insiden murni kejatuhan batu saat berlangsung aklimatisasi.

Kamal mengatakan, jenazah Andika saat ini sudah dimasukkan dalam peti jenazah dan sudah dilakukan pemeriksaan luar dan sesuai keterangam petugas medis bahwa korban mengalami luka sobek dan memar di bagian wajah.

“Jenazah akan diterbangkan ke Jakarta dengan pesawat Garuda untuk diserahkan pada keluarganya," ujar Kamal.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE