Wiranto: Insiden Pembakaran Bendera HTI Ditunggangi

Wiranto: Insiden Pembakaran Bendera HTI Ditunggangi
Menko Polhukam, Wiranto (tengah) didampingi Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan) dan Jaksa Agung Prasetyo (kiri) memberi keterangan pers terkait pembakaran bendera bertuliskan tauhid di Kantor Menko Polhukam, Jakarta, 23 Oktober 2018. ( Foto: Istimewa )
Robertus Wardi / DAS Jumat, 9 November 2018 | 12:25 WIB

Jakarta - Insiden pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Garut, Jawa Barat beberapa waktu lalu, ditunggangi. Insiden yang melibatkan tiga orang -seorang pembawa bendera dan dua pembakar- di kecamatan kecil, menjadi masalah nasional yang mempengaruhi ratusan juta warga negara dan menimbulkan perpecahan.

Hal itu diungkapkan Menko bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan (Polhukam) Wiranto saat mengadakan dialog kebangsaan dengan tokoh-tokoh umat Islam di Kemko Polhukam, Jakarta, Jumat (9/11).

Wiranto mengaku heran, insiden pembakaran bendera HTI bisa menjadi masalah nasional. Insiden itu bahkan dinilainya menimbulkan perpecahan dalam masyarakat.

"Kemarin saya dapat permasalahan, enggak besar sih. Cuma satu kecamatan kecil, Limbangan, Garut. Pelaku tiga orang, satu pembawa dan dua pembakar bendera tapi kok berkembangnya sampai ke negara, ke Indonesia begitu luas. Tiga orang bisa menyebabkan 120 juta orang bisa kena akibatnya. Ini tidak adil," kata Wiranto.

Ia melihat kasus pembakaran bendera HTI di Garut itu tidak berdiri sendiri. Dia meyakini ada yang menunggangi kasus tersebut. Apalagi dalam situasi menjelang Pemilu seperti saat ini. Namun demikian Wiranto tidak menyebut siapa yang berada di belakang kasus tersebut. Dia hanya menegaskan, selaku Menko Polhukam dirinya berkewajiban mencegah kasus tersebut melebar sehingga menimbulkan ketidakstabilan.

‎"Terus terang banyak yang kemudian nunggangin. Masalah enggak terlalu besar dalam konteks nasional tapi tiba-tiba menjadi besar. Indikasi-indikasi ini yang harus kita cegah," tutur Wiranto.

Menurutnya, kestabilan sangat perlu agar bangsa ini bisa terus berdiri dan bisa membangun. Jika terus terjadi gonjang-ganjing dan pertikaian, bangsa ini tidak bisa membangun. Yang rugi adalah seluruh warga bangsa ini.

"Ini ada indikasi (ada pihak) mau (negara) enggak stabil. Ada eskalasinya maka harus kita cegah. Banyak di Republik ini yang membuat negara tidak stabil, baik dari luar sengaja dalam persaingan global atau dari dalam juga bisa. Kok enggak puas sama pemerintah, disulut menjadi satu keonaran," ujar Wiranto.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE